“UTAMAKAN PRIORITAS!!!”

“Andaikan tubuh ini bisa dibagi-bagi…”

Sebuah kata kias yang tidak mungkin jadi solusi. Seringkali kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus memilah sebuah prioritas dalam menjalankan kehidupan. Pilihannya memang bukan antara hidup dan mati. Namun terkadang bisa dikatakan, hidup segan matipun enggan. Pilihan yang terlalu sulit untuk dijadikan pilihan. Mungkin kalian sering mengalaminya, begitu juga saya.

Saat satu hari inboxmu dipenuhi oleh undangan-undangan; taujih/tasqif, syuro’/rapat dikepanitian ini, syuro’/rapat di kepanitiaan itu, syuro’ yang bersifat amniah, bimbingan dengan dosen yang sudah dijanjikan, atau orangtua di rumah tiba-tiba meminta “hari ini di rumah dulu saja nak”. Makmano idak galau?? Ketika tubuh ini hanya satu, sedang kebutuhan menuntutmu seolah-olah ingin dirimu berada dikesemua agenda tersebut, tentu kau harus pandai-pandai memilih yang menjadi prioritas bagimu. Sulit memang, tapi mau tidak mau kau harus menjalankannya. Belum lagi terkadang bisikan setan yang bias, menghendaki kita untuk tidak memilih salah satunya, malah ongkang-ongkang kaki di rumah, dengan alasan yang tidak syar’i.

Dimisalkan ketika ingin hadir di sebuah syuro’, bisikan-bisakan ini muncul :“sudahlah di rumah saja, toh di sana juga sudah ada yang hadir. Kalian kan banyak./ tapi kan, saya panitia, walaupun banyak ornag saya juga ada tanggungjawab di sana/ tapi kan tanpa anda juga semua bisa berjalan/ tapi..kan mungkin saja dengan keberadaan saya bisa meringankan beban saudara/I saya di sana/ ah tidak juga, emang anda penting ?paling Cuma diam2 juga di sana, menghabiskan energi saja/ tapi kan…

Setelah mimilih prioritas dan memilih untuk datang, maka ternyata ketika syuro’: sepi, yang datang ornagnya sedikit sekali, kalo kita tadi memilih tidak datang.. syuro’nya belum bisa di mulai, karena  yang datang Cuma 2 orang 1 ikh 1 akhwt >_<

Dalam hati “tu kan tu kan.. coba klo benar2 memilih untuk tidak datang”.

Kata hati, kata prioritas. Pilihlah pilihanmu sesuai pada tempatnya. Jangan sampai ketidakhaadiran kita menjadi peluang  saudara/I kita untuk berhusnudzhan kepada kita.  Ketika kita memang benar-benar tidak bisa hadir, budayakanlah untuk konfirmasi dengan alasan yang tepat. Bukankah muslim itu satu tubuh, ketika yang satu tidak ada akan ada rasa kurang dalam melaksanakan amalan-amalan yang sifatnya jama’i. walaupun mungkin dengan hadirnya 2 orang saja sudah bisa menuntaskan kewajiman untuk berjamaah, tetapi dua orang itu sifatnya rentan. Karena ketika keduanya berselisih, maka tidka aka nada yang menjadi penengah. Maka jadilah ornag “ketiga” *ups, maksudnya orang-orang yang terlibat dalam amalan jama’i itu.

Amalan berbanding terbalik dengan maksiat. Semakin kita lalai terhadap waktu luang, maka semakin sering kita lalai terhadap waktu sempit. Maka “utamakan prioritasmu”( kayak kata2 di film SAW) -___-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s