Pudarnya Pesona Amniah [1]

Berawal dari sebuah pertanyaan seorang teman yang bertanya ”amniah itu apa sih ta?”. dan saya pun bingung, apa itu amniah? Saya juga bingung sejak kapan dan darimana saya tahu kata ini. Mungkin berawal dari seorang mbak yang menyerahkan undangan yang bertuliskan ”amniah” di sudutnya, ya kalo tidak salah saat itulah saya tahu dan bingung ”apa itu amniah”. Jika dirujuk secara harfiah Kata amniah berasal dari amaanah. Sedangkan kata amaanah akar katanya adalah amuna-ya’munu-amaanah yang berarti ‘kepercayaan’, ‘lurus’, ‘jujur’, ‘setia’, dsb. Berdasarkan dari bentuk katanya (amniah), kata ini merupakan bentuk isim nisbah yang dalam padanan bahasa Indonesianya menjadi ‘(sesuatu yang bersifat) amanah/dapat dipercaya’. sendiripun memiliki sebuah keamniahan. Jadi amniah bisa merupakan bentuk kepedulian.

Kebutuhan akan amniah memang sudah sewajarnya dijewantahkan dalam sesuatu yang disebut sistem. Tapi kenapa harus diamniahkan? Pertanyaan ini sering muncul dari beberapa kalangan, mungkin juga termasuk penulis (dulu). Sejatinya sebuah sistem yang akan atau telah dibuat membutuhkan sesuatu yang disebut etika. Amniah bisa dimasukkan dalam etika dalam berkomunikasi. Tanpa maksud untuk menutup-nutupi sebuah sistem itu sendiri. Kita ibaratkan hal ini adalah sebuah sistem kenegaraan. Negara pasti memiliki sesuatu yang sifatnya rahasia atau dirahasiakan. ”dokumen rahasia” ini tidak akan dibeberkan bila ada yang menanyakannya, sekalipun hal ini dalam kondisi mendesak. Dan apabila kita melihat Sirah, sesuatu yang sifatnya diamniahkan itu memang sudah ada sejak dakwah Rasulullah dulu. Dakwah yang pada awalnya memang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Salah satu contoh yaitu kisah seorang hudzaifah, seorang kepercayaan Rasul. Mungkin jika beliau tidak amniah, belum tentu akan ada kemenangan pada saat perang khandaq. Dari hal terkecil, kita lihat lewat bagaimana halaqah setiap orang yang berbeda-beda itu diupayakan untuk diamniahkan dari orang lain, tanpa maksud untuk mencederai tujuannya. Karena dakwah shir (tersembunyi), itu memang masih dibutuhkan dalam beberapa aspek

Amniah dewasa ini justru menjadi dengus tak sedap yang dibuat-buat untuk menyalahkan sebuah sistem. Amniah semakin kehilangan pesonanya yang semestinya terjaga, atau sering disebut dengan (Izzah). Terkait penting dan tidak pentingnya suatu keamniahan, sebenarnya diselaraskan dengan zaman yang ada. Suatu sistem tidak bisa serta merta dibentuk tanpa gagasan apik yang telah dirancang sebelumnya oleh seorang piawai (atau ahli). Coba kita pikir, seandainya dalam sebuah pembuatan buku si pengarang melibatkan semua orang dalam mengoreksi ”calon buku”nya, mungkin iya buku itu akan sempurna dengan komentar tapi tidak akan menemukan titik simpul. Karena hanya si pengaranglah yang (paling) piawai mengetahui tujuan dan kesimpulan dari ”calon bukunya”. Begitu juga dalam sebuah sistem.

Amniah menurut saya memiliki beberapa sifat yang dalam visualisasinya dibedakan ke dalam beberapa hal. Pertama, amniah yang sifatnya tetap, maksudnya bahwa apa yang harus dirahasiakan itu sifatnya harus rahasia selamanya. Maka di sini, apabila hal yang sifatnya sangat-sangat amniah terendus, bisa jadi membuat efek yang kurang baik dalam jam’ah ini. Amniah ini sifatnya mutlak, tidak bisa dilakukan dengan setengah-setangah hingga merusak nilainya. Kedua, amniah yang nilainya fleksibel dan dinamis. Maksudnya sesuatu yang diamniahkan, bisa jadi pada awalnya memang hanya untuk dikonsumsi oleh beberapa orang saja (ahlu syuro’), setelah kemudian akhirnya untuk diketahui khlayak. Tentunya ini harus dilakukan dengan komunikasi efektif, agar ketika orang-orang yang pada awalnya tidak tahu menjadi tahu, tidak berprasangka terhadap orang-orang yang telah tahu lebih dulu. Amniah ini sifatnya berubah disesuaikan dengan porsi yang dibutuhkan di tataran realita.  Dengan catatan, hal-hal yang disampaikan hanya yang sifatnya memang untuk konsumsi yang lainnya.

Pesona keamniahan sudah semestinya dijaga dan terjaga secara bersama-sama, bukan hanya untuk orang-orang yang berkepentingan dalam sistem itu tetapi semua yang terlibat dalam jama’ah. Penjagaannya dilakukan dengan maksud untuk menjaga Izzah Jama’ah. Walau pernah saja amniah hanya sebatas dijadikan jargon atau symbol-symbol. Idealisnya amniah berarti rahasia, tetapi kerahasian yang divisualisasikan dalam bentuk keterjagaan yang rapi. Artinya, keamniahan memang hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu. Jika keamnihan sudah tidak terjaga dengan baik, maka bisa membahayakan dakwah ini. Sangat banyak musuh-musuh islam yang beritikad tidak baik, atau bahkan orang-orang yang sesungguhnya islam tetapi memiliki fiqrah yang berbeda dalam mengejewantahkan kerja dakwahnya. Sifatnya sangatlah rentan.

Sesuatu yang sifatnya rahasia kemudian menjadi konsumsi khlayak ramai, adalah bentuk pudarnya pesona amniah. Sampai kapanpun keamniahan harus dijadikan hal yang sebenar-benarnya amniah, iya sebenar-benarnya. Jangan sampai justru hal ini membuat cacat dakwah kita. Apabila pudar pesonanya, apalah arti jika akhirnya ia hanya menimbulkan sekelumit pertanyaan baik secara lisan maupun tulisan atau bahkan terpendam dalam hati-hati yang menangkapnya. Jika pudar pesonanya, bisa jadi merusak ketuma’ninahan para pelakunya. Keamniahan yang tidak dijaga dengan baik, pun bisa menjadikan tempat bermuaranya zhon (prasangka) yang pada awalnya tidak ada, tetapi karena kita menampakkannya sehingga muncullah prasangka itu atau lebih tepatnya mengada-adakan. Bukan hal yang baik jika pada akhirnya sesuatu yang sifatnya tak boleh diendus, justru menjadi aroma yang membuat orang-orang tertarik untuk bertanya ”apa ini?”. Sesungguhnya sebuah keamaniahan itu bukanlah tempat untuk berbangga-bangga, bahwa kita mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Ia tempatnya berintropeksi, bahwa mungkin keberadaan kita justru adalah bagian afirmasi dari Allah, bahwa kita sama sekali tidak amanah selama ini. Rapat, orang-orang dan agenda apapun yang mengatasnamakan keamniahan, diupayakan untuk tidak ditampakkan walau hanya seujung kuku. Adab keamniahan memang perlu dijaga, sebenarnya tidak hanya dalam cakupan sebuah sistem, tapi juga dalam lini terkecil misalnya antara satu individu dengan individu. Bahkan setiap orang di dalam kehidupannya. Misal kau membicarakan hal ini berdua dengan teman yang juga ”diamniahkan”, namun kau bercerita ketika pada saat itu ada orang ketiga yang tidak berperan apa-apa, hal seperti ini haraplah untuk tidak dilakukan. Adanya transparansi dalam sebuah sistem tetaplah perlu dilakukan, namun ini tidak bisa mencakup semua hal. Maka untuk memilah bagaimana dan apa yang harus  dilakukan untuk menjaganya, akan saya jelaskan pada bahasan berikutnya (belum rampung).

Semoga Allah senantiasa menjaga hati-hati kita, karena muara dari isian hati hanyalah Allah yang semata mengetahuinya. Satu kode #KeepAmniah!! 😉

*edisi-nepati janji

Advertisements

8 thoughts on “Pudarnya Pesona Amniah [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s