Special for calon Ummahat [Simpul-Peradaban1]

Dakwah kita idealisnya tidak hanya dilakukan untuk memperkaya diri sendiri, karena dakwah adalah menyeru. Kita penyeru kepada kebaikan, mencegah pada kemungkaran. Untuk itu sebelum kita menikmati dunia realita, kita harus membawa sesuatu yang menjadi bekal. Karena hanya seorang alim (berilmu) lah yang bisa dijadikan uswah bagi pribadi lainnya. Maka dari itu orang-orang yang berperan sebagai da’i, harus memiliki pengetahuan yang luas, terkait ilmu yang akan disampaikan. Jelas bukan hanya ilmu yang dijadikan dasarnya, namun juga amalan yang berbanding dengan ilmunya. Karena ilmu tanpa amal itu nihil. Dan amal tanpa ilmu itu buta. Maka dari itu, pada kesempatan ini ada 3 hal yang sebaiknya dilakukan oleh para da’i, sebagai upaya memperkuat akar sebagai penopangnya dalam melakukan aktivitas dakwah.

[1] Iqra’

Bacalah! membaca harus dijadikan tradisi bagi setiap muslim. Ini adalah kata kunci kesuksesan kepemimpinan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan berlandaskan Al Qur’an dan Hadist, sebagai muslim jika kita membaca dan mempelajari dengan sungguh-sungguh sudah sangat memperkaya diri kita. Orang yang banyak bacaannya adalah orang kaya, kaya dalam artian ilmu dan pemahaman. Seperti halnya seorang muslim, ia hanya bisa disebut muslim ketika ia telah membaca syahadat. Hakekat syahat sebagai visi hidup muslim tidak bisa hanya diucapkan secara zahir, tapi juga lisan.

Pelajaran terbesar yang bisa kita ambil dari membaca adalah bagaimana peradaban di Eropa kembali bangkit saat sebelum dan setelah Perang Salib. Kunci yang mereka lakukan adalah banyak membaca dan mempelajari hasil karya muslim. Bahkwan mereka tak segan untuk mempelajari bahasa Arab. Untuk itu kita sebagai muslim harus kembali bangkit, memperbanyak bacaan-bacaan. Bukan hanya bacaan islam, tetapi juga tentang dunia modern untuk mencerdaskan pribadi kita. Membaca sifatnya pribadi, tapi hasilnya jam’aah. Maksudnya? Apa yang kita baca tidak hanya bisa memperkaya diri kita, tpai juga orang lain. Caranya dengan membagikan ilmunya melalui tulisan-diskusi.

[2] Nun

Menulislah, setidaknya untuk dirimu sendiri. Ada saat dimana kita harus melakukan pengabaian atas kalimat negatif yang dilontarkan orang lain akan pendapat atau kritiknya tentang tulisan kita. Akan tetapi ada saatnya juga, kita harus mengambilnya sebagai dendam positif di dalam diri. Saya pernah dikatakan seseornag bahwa saya hanya mampu menulis karya non fiksi. Hal itu akhirnya menjadi masukan dengan dentuman semnagat tersendiri dalam diri saya. Hidup itu pilihan, memilih yang baik, dan tanggalkan yang buruk. Jikapun konsekuensi kebaikan yang kita pilih akan menjadi celah untuk orang mencerca kita, maka jadikan itu sebuah momentum untuk kita menjadi lebih kuat dan lebih baik lagi. Kuncinya dendam positif. Jika orang lain bisa, kenapa kita tidak. Untuk memulainya awali adalah dengan [1]move (bergerak). Apabila saat ini kondisi kita berada pada ketidakbisaan, maka kita harus membuat plan making yang tujuan akhirnya membuat kita bisa melakukannya. Plan yang dibuat disesuaikan dengan kemampuan kita, jangan dipaksakan. Setelah move lalu [2]do (more), lakukan lebih dari yang biasa kita lakukan.  Dalam buku Dialog Peradaban dijelaskan bahwa segala sesuatu diciptakan dua kali. Ciptaan pertama adalah ciptaan imaginasi di dalam alam pikiran, dan ciptaan kedua adalah ciptaan nyata dalam alam fisik Do berarti ciptaan kedua yaitu ciptaan dalam alam fisik yang nyata. Namun sebelum melakukan ciptaan kedua ini, didalam menulis kita harulah memiliki ciptaan pertama dulu. Setelah melakukan, selanjutnya adalah [3]habits, jadikan menulis sebagai kebiasaan. Buat targetan dalam menulis, misal dalam seminggu dua tulisan atau lebih. Dan terakhir [4]continue, lanjutkan kebiasaan tersebut sehingga menulis menjadi sebuah kebutuhan. Maka menulislah, setidaknya untuk dirimu sendiri!!

Menulis disini ditujukan sebagai salah satu apresiasi atas apa yang telah kita baca, kita dengar, juga kita lihat. Jadikan mengikat ilmu dengan tulisan sebagai suatu kebutuhan. Berpikir secara realistis terhadap apa yang akan kita tulis, apa tujuan kita menulis akan menjadikan kerangka tulisan yang jelas. Menulis adalah aksi reaksi, sifat mempengaruhinya bisa sangat besar ketika apa yang dituliskan mengenai pokoknya. Menulis menggunakan emosional dan kejujuran akan lebih berpengaruh, ditimbang tulisan yang sifatnya private konsumtif. Jika memang sulit menulis yang bisa berpengaruh, setidaknya kita menulis untuk mengabadikan karya kita. Simpel.

[3] berdiskusi

Pada poin ini, ada dua hal yang dijadikan tujuan. Pertama berdiskusi untuk membuka cakrawala hasil dari membaca dan menulis kita. Tujuannya tak lain, agar apa yang telah kita baca dan tulis jelas tidak memiliki makna penyimpangan dari jalur. Kita butuh berdiskusi untuk meluruskan sesuatu yang mungkin bengkok dari bacaan ataupun tulisan. Kedua, diskusi dilakukan dengan maksud untuk melatih skill kita dalam berbicara. Setelah kita mendapatkan ilmu yang mahfum, maka hendaklah kita menyampaikannya kepada orang lain. Dengan berdiskusi baik dalam sekala kecil, menengah, maupun besar, kita mampu membiasakan diri untuk berbicara dihadapan orang lain. Diskusi disini juga bisa diartikan dalam bentuk syuro’ mapun rapat. Upaya penyampaian pendapat untuk mengakumulasikan sebuah perbedaan yang niscaya terjadi dalam diri setiap ornag, haruslah disatukan dalam padanan yang selaras, sejalan dan seiring dengan tujuan awal. Maka dari itu diskusi sangat perlu dilakukan untuk memadumadankan perbedaan yang ada. Sehingga menghasilkan sebuah gagasan yang kaya manfaat. Tidak mengutamakan kecadasan jiwa sebagai dasarnya, sehingga timbulkan kepongahan semata. Bukankah dalam taujihnya Ustadz Aniss Matta mengatakan perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidakbisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Maka budaya diskusi adalah salah satu jalur ahsan yang bisa dilakukan untuk menemukan titik simpul dari beragam perbedaan. Jelas ini bukan saja perbedaan cara mengutarakan sang ahli logika, atau yang meninggikan perasaan. Bahkan adakalanya, antar sesama mereka saja sering terjadi perbedaan yang khas.

Untuk mendapatkan tiga hal di atas, semua mencakup di dalam tarbiyah. Adanya orang yang lebih tahu dipertemukan dengan orang-orang yang ingin tahu. Sebenarnya tulisan ini saya tujukan dalam pembentukan proses tarbiyah awal. Akar simpul yang menjadi basis awal adalah terletak pada wanita. Kenapa wanita? Sifat fitrahnya yang memiliki rahim (penyayang) menjadikan dia orang yang paling utama membentuk landasan dasar, yaitu baiti (rumah). Maka dari itu wanita dewasa ini dituntut untuk melakukan 3 hal yang disebutkan di atas. Agar apa yang akan ia tanamkan kepada peradaban dasar yaitu rumah, adalah sesuatu yang tidak mengada-ada tapi ada landasannya. Dengan adanya tiga hal di atas yang kesemuanya bisa mencakup dalam tarbiyah, diharapkan tarbiyah tersebutmampu memberikan pelatihan (tadrib) amal dan pengalaman (tajribah)  di lapangan nantinya.

Bukan justru mengedepankan azas emansipasi sebagai dalih untuk menggeser peran utamanya di dalam keluarga, yang sebenarnya tidak menjadi jalan keluar atas kebutuhan wanita dalam berbagai aspek. Islam memberikan jalan terbaik bagi wanita dengan tetap meletakkan fitrahnya namun tidak mengurnagi potensi luar biasa yang ada di dalam dirinya. Sebagai seseorang yang akan menjad pencetak generasi masa depan, adalah keharusan bagi wanita untuk juga memiliki jiwa kepemimpinan. Di dalam buku Keakhwatan I Ustadz Cahyadi menerangkan bahwasanya sebagian kalangan muslimah terdapat pemahaman bahwa akhwat hendaknya lebih banyak tinggal di rumah dan tidak boleh mnegambil peran kepemimpinan publik. Seperti yang di jelaskan dalam Surat Al Ahzab: 33 ”dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias seperti berhiasnya orang-ornag jahilliyah dahulu..”.

Padahal ayat ini dipahami para musafir bahwa ini ditujukan kepada istri-istri Nabi SAW. Dengan demikian ayat ini tidak bisa digunakan untuk dalil pelarangan perempuan dalam kancah sosial maupun politik.

Terkait kepemimpinan Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa kepemimpinan kaum laki-laki atas kaum perempuan lebih cendrung kepada permasalahan kepada kehidupan keluarga. Adapun sebagian perempuan atas sebagian laki-laki di luar lingkup keluarga, tidak ada nsh yang melarnagnya. Dalam hal ini, yang dilarang adalah kepemimpinan umum seorang perempuan atas kamum laki-laki. Dan menurut Ibnu Hazm, berpendapat bahwa jabatan yang tidak boleh diserahkan kepada perempuan hanyalah ri’asah ad-daulah atau pimpinan negara. Kita bisa mengambil tauladan dari Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusro. Artinya, tidak menutup kemungkinan bagi seorang wanita untuk menjadi pemimpin dalam batas-batas tertentu, dengan catatan tidak meninggalkan fitrah dasarnya sebagai rabitul bait. Maka dari itu wanita juga harus membentuk karakter pemimpin dalam dirinya, sebagai bekal baginya untuk membentuk karakter pemimpin bagi keluarganya.

”Jika saya tidak bisa menjadi pemimpin, maka saya akan menciptakan pemimpin” MJ 12

Advertisements

12 thoughts on “Special for calon Ummahat [Simpul-Peradaban1]

  1. tryayuokta

    ”Jika saya tidak bisa menjadi pemimpin, maka saya akan menciptakan pemimpin” MJ 12

    mantap skali kalimat ini. suka suka suka,.
    cz pernah denger n diucapkan oleh vina 🙂 :p

    tp setelah bberapa baca referensi ttg wanita, bnyak sekali dilema yang akan dijumpai pd tataran aplikasi.apalagi klo bicara ttg mihwar daulah,. beraatt.
    #kali.ini.dikit serius

    btw, kembali ke kalimat awal “Karena ilmu tanpa amal itu nihil”
    so kpan amalnya ?? *kembali ke judul. wkwk

    Reply
    1. Oktaviana Miftakhuljanah Post author

      ah ayu, itu kan amniah ukh. hanya “kalian2” saja yang tahu. okeoke. ;))

      suka sama kalimatnya atau sama yang nulis *mulai narsisss* ahahaha..

      payo ibu yg prnah menjabat mentri pemberdayaan perempuan ni. cb kagek buat tulisan jg ttg itu. emang berat nian sih. inget almarhumah bunda yoyoh yusra. mg bae kita bisa mengikuti jejak almarhumah :’)

      kapan ya? kapan aja boleh, asal dak sradak sruduk beramal, tp dk liat syari’at lg. hehehe

      Reply
      1. tryayuokta

        bukan amniah *geleng2
        ayu sering geli klo inget kata2 iko ngolahin vina 🙂 hophop

        suka ama tulisannya, klo sama orangnya bakalan berabe.

        menteri ?? aamiin (konteks lebih luas)
        *hmm yusro ukh bkn yusra

        kasih tema gih ttg tulisan ttg wanita yg gimana? sbnrnya ana dak pinter nulis ukh, suer! parah nanti tulisannya jdi angka matematika malah. ^_^

        ana g’ trllu suka bhas konsep kpemimpinan wanita lbh tinggi dri lelaki, itu sdh d jlaskan di buku pak cah “mihwar daulah” bagian akhirnya ada tuh ttg peran akhwat.
        lbh tertarik konsep kepemimpinan wanita di ranah mar’ah (wanita) it sndiri.

        dan lagi2 kepentok dgn peran isteri dan ibu,. *kan belum nyampe keranah itu. jdi agak teoritis belaka jadinya.

        ayolah disegerakan *ting2
        siap jadi panitia *tersenyumlebar

      2. Oktaviana Miftakhuljanah Post author

        iyoo.. dak sangko iko biso sejahil itu. lah pacak bekode2 pulo. siapo ye yg ngajari *lirik 😛

        berabe kenapa ya?? heheh

        aamiin Rabb.. atau ant mnciptakan mentri be nah *upss
        *%%%%*

        menulis itu bkn pandai atau tidaknya. tapi hrs dibiasakan.. ciyee.. ttg apo ye. ttg “seni menciptakan pemimpin” atau manajemen yg bs dilakukan wanita dalam dua hal, dirumah jg di luar rmh.atau ttg kaffa’ah2 yg hrs dibangun wanita, krn kebanyakan akhwat tu ada yg trlalu sibuk, jd kaffa’ah mrka kurnag diasah.

        iyo tul betul, itulah ado closing statment dibawah tulisannyo. kan jd intinya seminimal tdk bs jd pemiin, ya hrs brusaha mnciptakan jiwa pemimpin. halahh. *apa ini..??

        waduuuhh.. manajemen akselarasi ini mah. segalo serba aksel. jgn doktrin ane ukh pliss..pliss… haha.. mau jd panitia apa? panitia sapu jagat yaa :p *tunggu bae yo, tp dk tau kapan nunggunyoo..*

      3. tryayuokta

        ^_____^ tersenyum lebar

        okelah mencoba berceloteh2 kecil dulu lalu ditulis, ye tak.
        nah serem nian yang tema terakhir itu ttg kafa’ah.. ngeriii :p

        okelah insyAllah calon pemimpin masa depan.

        🙂 segera ukh segera,. go go go! OI menunggumu #eh
        panitia yang dampingi aja deh,.

      4. Oktaviana Miftakhuljanah Post author

        apalah arti dibalik senyumu itu yu *___*

        sipooo.. masalah bagus tidaknya itu nmor sekian. yg pntg tulis dulu.
        keren ukh bahas kafa’ah. sekali2 qt isi blog2 ini full reep 😛

        aamiin Rabb..
        ah ayu.. do’amu itu.. wadooh. caknyo okta nak buat pengumuman bae “Wanted!! Kader Tangguh For Kota Santri” :p
        jangan bae panitia rusuh yg suka nyanyi ke panggung gak jelas 😛

      5. tryayuokta

        senyum maniz :), bukan senyum sayur asem.

        isi dgn resep masakan mksdnya?? hedeh
        *cari2 buku resep dulu. he

        ehem, kader tangguh yg mengabdi d kota santri #think :p

        cop, dak hobi nyanyi kita ukh.

      6. Oktaviana Miftakhuljanah Post author

        eh tray, betewe pas okta nanyo resep sayur asemnyo ke mama. ternyato resepnyo salah.. wadooh. kalian dk ado yg sakit perut kan? :hakshakshaks.

        iyaa..isi blognya dengan reep-resep andalan 😉

        heyy… apa maksudnya ituuu??*ayoo jawab! hahahah

        hobby nanyi pas aksi :p

      7. tryayuokta

        hhoho salah resep,. nah nah
        dak apolah masih enak2 b,. lapeerr soalny.

        ayolah ukh, bangun peradaban di OI itulah,. biar banyak kader OI tuh #eh

        lagu haroki beda pula itu.

      8. Oktaviana Miftakhuljanah Post author

        haha..dasar ye.. kurang asin tu sayur.. 🙂

        ayu ayu..apa-apaan ini. youdah, ayu jadi boss okta bae. biar biso ngompori *toeng*
        bangun pagi be lah ukh, kgk dlu bangun yg lain. *soalnya bukan tukang bangunan* Apasih

        ^_^

  2. Putri IreNe Kanny

    ga apa2 try, mencoba menulis itu bagus walaupun dirasa belum mumpuni di bidangny… haha pembenaran tapi bagi seumur dan seideal kita berbuat gini dulu agar nantinya lebih faham di perjalanan… (#bantu MJ )

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s