Afirmasi

Sebelum aku melerai kalimat-kalimatku. Aku takzimkan terimakasih kepada salah seorang kakak perempuan ketemu besar, yang sedari dulu juga sering menasehati. Masukannya tak berlarut-larut, namun kongkrit buat dijalankan.

“Istikharah okta” ketiknya, dalam percakapan singkat kami di wa. Percakapan kami memang tak seintens dulu. Aku percaya dia sangat sibuk sekali di sana. Meski kadang komunikasi kami tak berlanjut lebih panjang seperti dulu, tapi alhamdulillah silaturahim itu bisa terjaga.

Istikharah memang bukan saja tentang pilihan, namun juga tentang penguatan keyakinan dan tekad kita atas rencana-rencana Allah yang muncul tiba-tiba. Namun kita rasa, belum begitu siap menyambutnya. Setelah berhari-hari benar-benar bingung sendiri akan pertanyaan (yang terus berharap jadi pernyataan), pada akhirnya.. Istikharah menjadi jalan terbaik, untuk menenangkan hati. Memantapkan bahwa, kita sudah beriltizam menyelesaikan apa yang menjadi tujuan kita. Ya, tujuan. Bukan pilihan.

Dan, setelah melaksanakannya. Bertubi-tubi tafsir-tafsir ini Allah hujami. Entah secara sengaja dibaca, ataupun secara tak sengaja tersampaikan. Dan, aku akhirnya mulai tercerahkan atas pernyataan yang justru membuatku bertanya. Pernyataan singkat yang menjadi pertanyaan dalam 5 bulan ini.. “Intropeksi diri”.  Setelah Ramadhan tahun kemarin, ada sesuatu yang sedang ingin Allah tampakkan. Namun aku belum begitu paham, hingga setahun ini akhirnya aku paham  bahwa.. semuanya berkaitan. Aku belum membenahi diri secara benar.

Setahun, afirmasi ini akhirnya membuat aku paham. Bahwa taubat-taubatku belum serius ku laksanakan. Istigfarku masih sangat kurang.

Sadarkah kita, kadang kita merasa terlalu tinggi dengan amalan-amalan kita. Padahal, semestinya amalan dan akhlak itu ibaratnya refleksi cermin. Semakin banyak dan berkualitas amal, semakin berakhlak kita. Terjaga perbuatan kita, terjaga perkataan kita, terjaga hati dan pandangan kita. Namun jika belum, khawatirnya. Amalan kita belum benar-benar kita “amalkan” dalam kehidupan. Kita masih suka menyakiti, tanpa sadar sama sekali padahal kita mengulanginya kesekian banyak orang. Sedang disisi lain, kita merasa tinggi. Sungguh menyedihkan. Benar-benar nasihat yang menjadi afirmasi buat diri ini. Bisa jadi, taubat kita ilusi. Hingga menghalangi Rahmat Allah atas diri kita. Sedang nyatanya orang yang sungguh-sungguh bertaubat, akan Allah berikan yang dia butuhkan pada waktunya.

Afirmasi: mintalah terus pada Allah lewat istikharahmu. Bukan hanya tentang apa, tapi kapan dan mengapa. Insya Allah, Dia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan ketentraman yang mendalam. Tulisan ini, akhirnya menjadi sebenar-benarnya pengingat untuk diri. Sudah sejauh mana berserius memperbaiki diri.

Ya Allah Ya Ghafur..

#OneDayOnePosting  #MyRama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s