Istimrar

Segala yang sedikit, namun dilaksanakan secara rutin dan memadahi. Jauh lebih baik, daripada melakukan sesuatu yang jumlahnya banyak dalam satu waktu, namun setelahnya kita terengah-engah, dan mengakibatkan kita sungkan untuk melakukannya lagi.

Secuil kalimat yang sudah saya tulisakan beberapa tahun lalu, akhirnya menggugah untuk menyusun kalimat-kalimat selanjutnya pada bagian ini. Istimrar, benar-benar hal yang menjadi PR besar buat diir pribadi. Otak yang karena rutinitas akhirnya tersetting dengan proyeksi “deadline”, berulangkalipun tidak akan bekerja sebelum deadline itu sudah benar-benar berada pada layar.

Istimrar tidak hanya dilakukan dalam beribadah, jikapun ibadah kita sudah begitu namun kita masih terbiasa dengan patokan deadline. Artinya, ibadah belum mecermin dalam diri kita. Aktivitas yang banyak atau dibanyak-banyakkan seolah menyita waktu kita. Padahal kita tahu jam-jam efektif otak kita bekerja dan tempat-tempat efektif yang memuarakan inspirasi Membuat semua syaraf mampu bekerja dengan aktif dan saling memenuhi.

Otak yang terbiasa dengan deadline, sedang deadline atas diri kita ternyata tak jua muncul hanya akan menimbulkan kelalaian-kelalaian yang dibarengi dengan pembenaran-pembenaran atas diri.

Satu kelalaian yang akan menaut dengan kelalaian lain pada aktivitas kita. Istimrar semestinya dilakukan, sebagai bekal menjadi orang yang konsisten. Karena yang sedikit dengan keberkahan jauh lebih baik, daripada banyak namun hanya menjadi kepulan-kepulan tak berarti dalam kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s