Category Archives: cerpen

Serba Syar’i [cerpen]

Subuh itu bintang masih semangat menebar cahaya anggunnya di langit. Bulanpun ikut memandangi bebintang itu penuh temaram. Semangat itu tetap saja terkalahkan oleh semangatnya, Rindu. Gadis belia ini selalu punya optimistis yang luar biasa. Jiwa mudanya bisa saja mengalahkan dedaunan padi yang khusuk bertahmid di pagi berembun itu. Rindu selalu begitu. Ba’da shalat subuh di masjid, ia siap sedia mengayuhkan sepedanya lagi untuk menuju suatu tempat yang penuh cahaya. Tempat yang akan semakin bercahaya setelah kedatangannya. Ah, seperti namanya, iapun akan selalu dirindukan oleh orang-orang di tempat itu.
“Pagi nak rindu..” sapa ibu separuh baya yang berpapasan dengannya dijalan. ”Assalamu’alaikum ibu..” sapanya balik, sembari tersenyum ”Wa’alaikumuusalam..he” jawab ibu itu sambil tersenyum malu, karena lupa semestinya menegur seseorang dengan salam. Setelah memelankan sepedanya karena bertemu ibu tadi, rindu kembali bergegas, hos dan hos. Kayuhannya semakin cepat dan giat. Tempat yang ia tuju sekitar 1 Kilometer dari masjid, tempat yang penuh cahaya itu selalu ia nantikan setiap pagi. ”alhamdulillah” lenguhnya pelan, setelah akhirnya sampai ke tempat yang ia tuju. Seperti biasa, para ibu-ibu, anak-anak, dan teman sebayanya sudah duduk rapi melingkar disana.
”Rindu telat ya bu?” tanyanya sambil menciumi tangan ibu-ibu yang ada di sana, sambil kemudian cepika cepiki, pun dengan teman usia sebayanya dan anak-anak kecil. ”tidak koq nak, kami juga baru sampai”. Hari ini tempat itu penuh sekali, mengalahkan pagi-pagi sebelumnya. Ia sangat bahagia melihat hal itu, semangatnya semakin membuncah. Tak sabar rasanya segera berbagi apa yang telah ia dapatkan dari tentornya. Selanjutnya ia duduk merapat di sekitar lingkaran itu, mulailah acara itu dengan pembukaan seperti biasa. Setelah selesai tadarus bersama, Rindupun menyiapkan materinya hari ini.
”hari ini kita bahas tentang persaudaraan ya ibu-ibu, mbak-mbak, temen-temen dan adek-adek..” Semua menanggapi dengan antusias.

***
Keningnya mendadak mengkerut membaca sebuah tulisan yang terdapat di mading mushalah, dari judulnya saja sudah buat #jlebb. Ia coba amati dengan seksama tulisan itu judulnya ”serba syar’i”.
”aku merindu, saat kita tilawah bersama. Mentadabur Al qu’an bersama, dalam sebuah cahaya cinta utuh. Aku rindu, saat kita berlomba-lomba menghafal surat, saat kita berlomba-lomba menyehatkan jasmani kita, atau.. ketika kita berkejaran dengan waktu untuk mengahadiri sebuah I’lant. Aku rindu, rindu cerita panjang lebarmu. Rindu tatapan seriusmu terhadapku. Aku rindu tegurmu, dan tentunya..aku rindu ukhuwah kita.
Kini semua bagimu serba syar’i. kau sungguh sibukkah? Begitu tinggi jam terbangmu, membuatku serasa sulit untuk sekadar menangkap senyum teduhmu. Aku rindu..kau.. semoga alasan yang serba syar’i itu tak membuat kita lupa, tentang ukhuwah yang terlalu indah untuk dilupakan ini. Dan biarkan, dengan alasan serba syar’i, aku akan tetap mencintaimu sebagai saudara seiman, karena kesyar’ian sebuah persaudaraan itu adalah ikatan iman yang sesungguhnya…”
Ada gelegar dihatinya, seolah disambar gemuruh, hatinya ingin runtuh. Ia terlalu sibuk, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar saudara-saudari sefakultasnya. Bahkan, ia sudah sangat begitu jarang untuk sekedar mengunjungi mushalah yang selama ini banyak menyimpan cerita. Agenda eksternal terlalu menyita waktunya, hingga ia benar-benar alfa kepada teman-teman seperjuangannya, adik-adik penerus estafet dakwah, dan.. semua cita-cita untuk fakultasnya. Rindu terdiam dalam keheningan yang pias menyambarnya. Ia merasa sangat bersalah. Setiap ada syuro’ fakultas, ia selalu beralasan “afwan lagi ada syar’i” atau afwan-afwan lainnya, yang tanpa sadar telah begitu menggunung, pun mungkin disertai kekecewaan dalam hati saudara-saudarinya. walau mungkin mereka sudah terlalu biasa untuk mendengar kata afwan, namun rasa bersalahnya tak mampu ia bendung lagi.

***
“bukan kata afwan, dan seberapa banyak agenda yang kita syar’ikan yang menjadikan dakwah ini ramai peminat. Tapi, bagaimana komitmen kita. Kita hanya manusia-manusia akhir zaman, yang Allah pilihkan untuk berada di jalan yang begitu sulit ini. Seberapa banyakpun amanahmu, konsekuensinya adalah kau harus semakin pandai dan dewasa memilih dan memilah, iya fiqh Awliyatnya.”. Ucapannya membuat rindu semakin kerdil di dalam ruang syuro’ berukuran sedang itu. Ia tersentak, rasa perih menyambarnya. Bukanlah ia tak terima dengan nasehat itu. Namun, justru ia sangat-sangat merindukan nasehat penguat seperti itu. Hingga tanpa ia sadar, ada yang memerhatikannya sedari tadi ”anti kenapa ukh?” tanya akhwat disampingnya. Mungkin sedari tadi ia dengan seksama mengamati Rindu, yang menunduk terdiam. ”ndak papa ukh, lagi meresapi kata-kata tadi.” Mereka berduapun saling tersenyum. Usai syuro’ yang telah lama tak pernah ia hadiri, dari kejauhan salah seorang akhwat memanggilnya. Rindu menoleh, membiarkan akhwat itu mendekatinya. Akhwat ini, ia masih ingat bagaimana perjalanan setiap sore bersamanya untuk menghabiskan waktu syuro’. Akhwat ini masih seperti dulu, tak ada yang berubah.
“apa kabar ukh?” tanya Rindu memecah keheningan yang tersembunyi rapi dibalik pundak-pundak mereka, “alhamdulillah khoir..anti?” “Alhamdulillah ukh…”. ada rasa kelu yang membuat kata-kata menjadi beku begitu saja, sulit sekali untuk mencairkan suasana.
“ukh ane pulang duluan ya, ada…” “iya..” tungkasnya, sebelum Rindu menyelesaikan kalimatnya. Setelah selesai bersalaman mereka pun berpisah, di temani suara udara dari nafas-nafas mereka yang terasa berat.

***
: Ukh, besok ada waktu ndak? Ane pengen ketemu sama ukh Rindu, kangen.. 🙂 :

Lagi-lagi Rindu bingung, besok itu ada pertemuan dengan ibu-ibu desa yang sudah diagendakan. Tetapi ia juga Rindu terhadap saudarinya itu. Seandainya ada orang lain yang bisa menggantikannya, ia akan memilih bertemu saudarinya. Ia berpikir keras..

Tiktoktiktok…

:Ok, InyaAllah ukh. Tapi pagi ya..? :):

Massage send..

:Alhamdulillah, oke InsyaAllah, di tempat biasa ya ;):

Jam menunjukkan pukul 8, setelah melakukan senam pagi dengan ibu-ibu seperti jadwal biasa. Rindu bersegera memarkir sepeda tuanya di tempat biasa. Tak lupa ia menggemboknya. Melihat gembok itu, ia jadi ingat acara tuker kado dalam lingkaran lamanya. Rindu mendapatkan hadiah gembok yang sangat-sangat bermanfaat baginya. Ia tersenyum mengingat kenangan itu, kemudian bergegas berjalan. Jalan setapak itu dijatuhi ratusan titik air yang tumpah semalam, menyebabkan jalanan becek dan berkubang. Rindu tak bisa berjalan lebih cepat dari biasa. Karena ia masih banyak agenda dan mesti menjaga peformanya dalam agenda-agenda itu. Setelah sekitar 20 menit berjalan, ia harus menaiki angkutan umum untuk sampai ke tempat dimana ia menaruh janji. Setelah menemukan angkutan yang pas, Rindu mengambil posisi dipojok angkutan itu. Tak disadarinya, rintik-rintik di luar mulai membasahi kaca angkutan itu. Menghasilkan perembunan, hatinya terlalu gusar untuk menyadari hal yang biasanya akan dia nikmati.
Perjalanan memang sedikit lama, sekitar 30 menit. Itupun jika angkutannnya tidak banyak stop. Setelah merasa tempat yang dituju akan sampai, rindu bergegas menghentikan angkutan itu. Ia tak sadar, gerimis tadi telah berubah menjadi hujan yang lumayan deras. Turunnya dari angkutan itu ia bergegas mencari tempat berteduh, yang tanpa disadari mempertemukanya dengan orang yang membuat janji dengannya. ”Rindu..” ucap akhwat itu lembut, sambil menyalami dan memeluk saudaranya itu. Ada sesuatu yang membuncah di dada Rindu dalam pelukan itu. Kemarin ia tak begitu sempat ngobrol banyak dengan saudarinya itu. Hari ini, perasaan rindu itu harus ia tuntaskan. ”Yen, mbak kita apa kabar ya?” tanyanya memecah bisingnya tumpahan air dari langit. ”baik rin, sangat baik..” ”alhamdulillah..”. kemarin mereka berdua satu halaqah, tetapi akhirnya harus berpisah. Semenjak sibuk dengan amanah masing-masing, juga sibuk dengan kewajiban masing-masing, mereka berdua jadi sangat jarang bertemu.
”eh Yen, ngomong-ngomong gimana, lancar aja kan dengan amanah barumu?”. Yenni hanya tersenyum mendengar pertanyaan saudaranya. Ia bingung harus menjawab apa, entah definisi lancar seperti apa yang harus Rindu dapatkan dari jawaban saudarinya itu.

————Setelah ngobrol ringan, di luar bahasan jamma’ah dan ummat. Mereka harus berpisah. Tapi sebelum pergi, Yenni tak lupa mengelurkan sesuatu dari dalam tasnya. Bungkusan kecil. Yenni memang sangat suka memberikan hadiah buat saudari—saudarinya, terkhusus untuk Rindu. ”ukh ane punya ini untuk anti, dijaga ya..” ia mneyodorkan bungkusan kecil itu kepada Rindu. Rindu menerimanya dengan senang hati, lantas berkata ”tapi Rindu belum sempat memberikan sesuatu buat anti ukh, afwan ya..” ucapan Rindu, hanya diekspresikan Yenni dengan senyum paling hangat miliknya. ”di dalam itu ada pesan, jawaban dari pertanyaanmu tadi.hehe dibaca ya ukhty sayang..” ucapnya, sambil memeluk erat saudarinya itu. Merekapun berpisah, bersama ribuan tempo yang dinyanyikan air-air langit. Rindu masih ingin lama bersama saudarinya itu..

***
“Andai dakwah bisa tegak dengan seorang diri, tak perlu Musa mengajak Harun, tak perlu pula Rasulullah mengajak Abu Bakar untuk menemaninya hijrah. Meskipun pengemban dakwah itu seorang alim, faqih dan memiliki azzam yang kuat, tetap saja ia manusia lemah dan akan selalu membutuhkan saudranya meskipun saudaranya itu memiliki banyak keterbatasan. Jagalah dia dan jangan kau sia-siakan saudaramu, karena ia sangat mahal harganya dan mungkin ialah yang selalu mendo’akanmu dalam setiap langkah-langkahmu..”
Tes.. air matanya menghasilkan genangan, bingkisan itu ternyata kalimat-kalimat motivasi dalam sebuah buku agenda hijau muda, yang pernah Rindu berikan buat Yenni dulu. Sewaktu Rindu yang menjadi Qiyadahnya. Dan sekarang posisi mereka berbalik, pilihan Rindu untuk mengutamakan amanah eksternal membuatnya harus perlahan melepas amanah kampusnya. Belum lagi kondisi orangtuanya yang sakit-sakitan, nyatanya amanah yang lebih berat untuk ke estafet selanjutnya harus direguk oleh saudari seperjuangannya itu, Yenni. Ia yakin, Yenni memang pantas mendapatkan amanah itu, karena komitmennya jauh lebih baik dari Rindu. Dan sekarang Yennilah Qiyadahnya, yang harus ia patuhi, yang harus ia bantu dengan menggenggam tangannya, berjalan beriringan. Di akhir buku itu juga terdpat tulisan tambahan dari Yenni..”
“Aku memang Qiyadahmu, tapi aku tak lebih baik darimu. Maka bantu aku. Jika aku salah tegur aku, jika aku benar ikutilah jalanku.. ukhty, aku tak jauh lebih baik darimu, namun adakala aku butuh, sekedar sapamu, tanyamu, atau balasan SMSmu..
Ukhuwah kita sederhana, tapi kecintaan kita pada dakwah ini terkadang begitu rumitnya. Kesibukanku-kesibukanmu..membuat semuanya terbatas. Tapi aku yakin, kesamaan do’a-do’a kita selalu menjadikan rindu pengkitanya, Rabitha buatmu selalu from yenni”.

***
Sesungguhnya apa yang harus kita kerjakan, jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia. Tapi tak semua menyadari dan merasakan hal itu. Maka bersyukurlah selagi Allah mengizinkanmu untuk memiliki kesibukukan yang bermanfaat, karena sungguh kaulah yang terpilih. Tapi jangan kau lupa, ini adalah tugas bersama, yang harus ditanggung bersama, maka jangan kau lupakan hak atas saudara-saudarimu. Berbagilah pundak, berbagilah hela, dan nikmatnya dakwah akan kau rasa. Berseriuslah, apapun amanah itu.

Advertisements

“Namaku Rain..”

Namaku Rain..

Alamat di… Jalan mawar nomor sem-bi-lan

A..yahku… A..yahku…

I..buku…Ibuku…

Suasana kelas pun hening, ia hanya bisa menundukkan wajah pualamnya yang polos itu. Kemudian mencoba membangkitkan lagi, ia sama sekali tidak terisak. Hanya saja dengan sigap memberi pertanda kepada ibu gurunya yang juga hening, perkenalannya selesai. Cukup. Ya cukup sampai situ saja. Ibu guru yang mengerti maksudnya akhirnya membiarkan ia duduk lalu berdiri dan dengan agak parau berkata ”ayo anak-anak tepuk tangan untuk Rain”. Para siswa dengan wajah polos mereka kemudian dengan kompak mengikuti perintah gurunya. Mereka benar-benar tak ada yang mengerti hati Rain. Ia patah, ia jatuh. Bagai dahan yang dipaksa. Bagai daun yang gugur sebelum tiba massanya. Tapi sayang, ia tak akan pernah bisa menangis. Tak akan!

***

Hujan seakan tumpah. Petir menggelegar sesukanya. Adakah Sang Pengatur sedang murka. Gelap. Tak berbintang. Kelu. Dingin. Tak ada yang mau beraktifitas di kondisi semengerikan itu. Pohon-pohon beberapa ada yang tumbang. Krakk.. tepat mengenai badan jalan. Aspal-aspal menjadi licin, membuat para pengendara yang kebetulan terjebak keadaan mengendarai kendaraannya dengan penuh kehati-hatian. Dalam kondisi seperti itu, tak ada yang tahu. Tak ada yang sadar. Seorang bayi mungil dengan pulas tidur berbalut kain beberapa helai. Hanya beralaskan tampat dari rotan. Hanya terlindung seng yang telah bocor terkikis air. Bayi mungil itu tetap tenang. Ia percaya, akan ada malaikat yang datang menghamipirnya. Bukankah begitu janji Allah padanya? Iya yakin, akan ada malaikat yang melindunginya. Tapi mana? Mana malaikat yang dijanjikan itu. Mana malaikat yang akan menghangatkan, membelainya penuh sayang, dan menyapihnya. Aduhai, mana malaikat itu. Seandainya suara lirih dari helaan nafasnya itu terdengar. Tak adakah yang sudi untuk mengambilnya. Lalu memberikan hangat. Tapi..tunggu dulu, lihat. Ada yang mendekatinya, ada yang mengambilnya. Tapi, duh. Kenapa malaikatnya ini agak lusuh. Pakaiannya compang camping. Tubuhnya bau. Rambutnya tak tertata. ”dimana anakku,,dimana anakku.. anakku.. anakku… ayo..main”. Duh. Siapa ini, kenapa kemanjaan yang diberikannya tak sesuai dugaannya. Kenapa malaikatnya ini berbeda dari bayangnnya. Kenapa ia justru membuatnya menangis!. Dalam tangisan hening itu, dalam gendongan yang membuatnya terguncang-guncang. Di ujung sana ada suara yang lebih berisik dari orang ini. Sepertinya ada yang tidak beres. ”Hey Gila kau, Dasar tidak waras!! Ayo turunkan yang ada di tanganmu!! Hey!! Lihatlah dia menangis karena tingkahmu!!…”. Akhirnya ada yang menolongnya dari orang aneh itu, semoga dialah malaikatnya yang sebenarnya. Tapi ia mau dibawa kemana, berlindung payung yang telah lembab akibat tumpahan air dari langit. Ibu yang usianya bisa dikatakan muda ini dengan wajah cemas mencoba untuk berlari, walau ternyata tak semudah yang ia pikirkan. Belari kecil, dan berlari lagi. Akhirnya sampai. Apakah ni rumahnya. Di sana ramai dengan bapak-bapak berseragam. Sepertinya ini bukan rumah. Apapun namanya, ia berharap ibu ini akan melindunginya di tempat ini.

”Pak saya menemukannya di halte sebelah sana”. ”Jangan-jangan ia anakmu, tapi kau akui sebagai nak orang!! Tegas bapak berseragam itu. ”Tidak pak, tadi ada orang gila yang membawanya. Aku yakin bukan dia orangtuanya, jadi ku bawa dia ke sini”. ”Ya sudah, catat namamu. Tinggalkan dia disini. Biar kami urus!”. Ibu itu pergi, meninggalkannya sendiri bersama pria berseragam. Duh, siapa sebenarnya malaikatnya. Tak adakah yang benar-benar sudi menjadi malaikat baginya.

Malam berlalu, hujan masih menyisakan jejaknya. Pohon-pohon tumbang membuat orang-orang heboh. Senin yang selalu menggemaskan. Hari yang sepadat ini masih harus dirusak dengan tumbangnya pohon yang menghalang jalan. Senin gerimis. Jalanan masih tetap licin. Namun petir tak semengerikan semalam. Dan nasib bayi mungil itupun tak semenyedihkan semalam. Ada ibu-ibu separuh baya yang akhirnya mengambilnya. Ia bahagia, mencoba memberi senyum lembut kepada ibu itu. Inikah malaikatnya??

***

Januari 1992

Aku lupa ini tanggal berapa, tapi aku ingat. Betapa naas nasibku ini. Haruskah aku menanggung perih dan lara ini sendiri. Aduhai. Dimanakah Tuhan saat ini? Kenapa ia membiarkan aku begini. Kemana suamiku? Kenapa ia tega…

***

Oktober 2000

Ma, bunda, ibu.. hari ini aku bisa menulis. Aku senang. Aku sayang mama, bunda, ibu juga ayah. Mungkin.

***

Januari 2001

Ma aku kangen..

***

Juni 2001

Hari ini aku dapat juara. Aku tak ingin apa apa Tuhan. Aku hanya ingin ma-ma..

***

Aku diejek lagi. Tak apa. Aku janji ndak akan nangis, asalkan ma-ma dan ayahku kembali.

***

Tak ada yang mencium bau anyir di pergelangan tanganya. Tak ada yang sama sekali mencegah perbuatan hinanya. Ia kira semua akan selesai setelah  uratnya terputus. Ia lupa ada Tuhan yang mengawasinya. Ia lupa Allah tak pernah alfa mengawasi tindak tanduk hambaNya. Ia lupa, setelah kehidupan di dunia ini ada akhirat yang kekal. Ia benar-benar lupa, termasuk lupa nasib anaknya. Rain.

***

Bau busuk ini menyeruak, orang-orang heboh. Sejak kemarin rumah ini terkunci rapat. Dalam kondisi lampu yang mati. Semua berpikir pemilik rumah itu pasti sedang pergi. Tapi salah. Mereka salah. Sang pemilik ada di dalam. Meregang nyawanya sendiri. Busuk! Seperi pikiran dan akalnya yang busuk. Naas-

***

Tanah bergunduk itupun basah, tak ada tangisan di sana. Tak ada usut mengusut tentang kematiannya. Pusara itu hening. Tak ada taburan bunga, hanya tanah bergunduk ditancapkan lisan bernama. Entah apa yang terjadi di dalam. Mungkin ia tengah merasakan betapa mengerikannya azab kubur. Mungkin ia tengah terengah menahan sakit yang melebihi sakit di pergelangan tangannya. Mungkin ia tengah bingung, akan dijawab apa pertanyaan-pertanyaan ini. Man rabbuki?

***

Ia tumbuh dewasa, menjadi seorang yang riang untuk diarynya. Tapi tetap, menjadi seorang tertutup untuk dirinya sendiri dan orang lain. Namun ia menjadi seorang yang tegar, kuat, dan semakin matang. Rain malang yang cerdas.

Nama ku Rain

Aku tinggal di panti asuhan satu-satunya di kota kecil ini

Seperti yang kalian tahu

Aku tak punya ayah dan ibu.

Cukup!

Tak ada tepuk sorak. Yang ada hanya tatapan beku. Bukan iba, tapi beku. Masa bodoh. Mungkin mereka tengah mencemooh dalam hati mereka masing-masing. Atau mungkin benar-benar tak mendengar dan berupaya tak mendengar apa yang dikatakannya barusan.

Tapi ia tetap terlihat tegas dengan tatapannya, ia sudah berjanji tak akan menangis. Walau di setiap perkenalan, sebenarnya sungguh hatinya teriris-iris. Tapi ia tetap tegar.

***

Diary, aku melihat senyumnya lagi. Rasanya ada yang menjalar. Perasaan yang aneh. Degub jantungku selalu tak bisa ku tata. Ada apa ini? Ma, ada apa dengan anakmu ini?

***

Kali ini senyumnya masih sama. Tulus. Sejuk. Hari ini aku tahu namanya. Kami satu kelas. Ia memang murah senyum. Sesuai dengan perawakannya yang terlihat selalu ceria. Ujung jilbabnya itu, semakin membuatnya teduh. Ia tak cantik, tapi manis. Duh, ada apa ini. Berpapasan dengannya membuat jantung ini berdegub tak karuan. Ingin menyapa, tapi tak ada modus yang tepat untuk itu. Allah mungkin kah Rain jatuh cinta. Jaga hati ini ya Allah.

***

”Rain.. rain..” ”i-ii-yaa..” gugub dan terbata. ”Kau mau ikut ini?” ”Apa itu? Tanya rain gugup, memulai sekenanya. ”Ini agenda rohis Rain, Ikut yuk. Dijamin seru..” lihatlah gadis ini, antusias sekali ia mengajak pemuda di sampingnya. Tak tahu apa, yang diajak sekarang seolah berada di antara dua dunia. Antara harap dan mimpi. Duh rain, kau tak boleh seperti ini. Kau tak pantas untuknya. ”Insyaallah ya” jawab Rain samar.

***

Mereka semakin akrab, Rain makin kagum dengan gadis itu. Waupun mereka akrab, gadis itu selalu menjaga kedekatan mereka. Ia sungguh gadis yang istimewa. Setiap hari berdiskusi dengannya semakin membuat Rain mantap akan keputusannya. Ia pasti bisa melakukannya. Ia yakin, perasaan ini tak bertepuk sebelah tangan. Ia yakin.

***

”Maaf Rain, maaf. Sekali lagi maaf.. Aku tak bisa” jawabnya lugas dan tegas. ”Tapi kenapa? Apa aku salah kaprah dengan semua ini? Apakah aku salah tanggap dengan kedekatan ini. Atau karena aku…” ”Rain ku mohon, mengertilah. Sudah ku bilang dari awal. Aku tak bisa, atau belum bisa menaruh simpati pada siapapun. Aku tak mau berpacaran Rain. Dengan siapapun. Termasuk kau…Rain” nada lirih itu keluar dari mulutnya, tapi sama sekali tidak dari hatinya. Sejujurnya dari kedalaman hatinya, iapun merasakan hal yang sama. Tapi ini tak baik, mana boleh ia membiarkan perasaan yang belum waktunya itu. Ia mencoba menahan isak, kemudian berlari dari hadapan Rain. Hening-

***

Rabbi, ini hari ketiga. Aku tak melihat senyumnya. Hari ketiga aku tak melihat keceriaannya. Hari ketiga aku tak melihat cahaya di matanya. Duh, kebodohanku terulang. Kenapa aku nekat mencintai gadis yang sama sekali tak pantas buatku yang hina ini. Kenapa aku nekat membiarkan hatiku terpaut dengan namanya, ini tak baik. Aku harus melupakannya. Mungkin akan sulit. Tapi aku yakin, yang baik untuk yang baik. Maka izinkan aku Rabb, mendapat yang sebaik dia, walaupun bukan dia.. Izinkan aku berbaik diri Rabb..

 *Bersambung*