Category Archives: #Dakwah

ukhuwah kita **

Titip salam dariku, untuk ukhuwah kita yang tengah indah-indahnya. Kuncup-mekar di taman masing-masing. Dedaunannya mulai meranggas satu dua, apakah itu tunjukkan ukhuwah kita sekarang begitu kering? Ah ku rasa tidak, ada kalanya kita memang butuh waktu, untuk kembali munculkan tunas-tunas baru yang hijau menyenangkan. Adakalanya kita memang butuh, mematahkan satu-dua dahan, untuk mempertahannkan yang lainnya. Ini bukan masalah seberapa banyak hama-penyalit yang menggerogotinya, ini masalah paham kita. Ukhuwah selalu dibangun dengan cara yang unik. Kadang. Kita memilih untuk tidak bertemu saja, agar ego-ego yang beranak pinak itu luntur, akibat membuncahnya muara rindu. Iya, bukankah rindu harus dibangun dengan cara yang rutin. Bisa jadi, dengan melamakan waktu untuk tidak bertemu. Bukan sombong. Tapi, begitulah uniknya, membiarkan kepulan-kepulan hangat nan dahsyat itu menembus dinding-dinding langit. Saling berpelukan. Saling menatap hangat dengan mata bebinar layaknya kejora. Lalu, lupalah segala masalah masa lalu yang menyakitkan, membuat kita menangis diam-diam, mengkarati hati, kita tidak benci, tapi itu efek Maha Dahsyat dari keindahan ukhuwah. Kita sama-sama berupaya untuk memahami setiap intuisi yang diciptakannya secara alamiah dan natural, mangkanya tak jarang cinta orang-orang yang menjaga ukuwahnya akan mampu kalahkan cinta romantisme pasangan-pasangan muda.
Ukhuwah kita tengah lelap-lelapnya, bukan ia lelah mencercah cahaya, bukan ia lelah merasuki lorong-lorong nan senyap. Tapi ia sedang belajar, menghilangkan cadas dan pongah masing-masing. Bukan istirahat istilahnya, ini hanya fase yang memang harus dilakukan, menuruti siklusnya. Tak layak, kita terus paksakan, ukhuwah berjalanan bersisian, namun nyatanya bersebrangan. Lebih baik, kita simpan diam-diam dulu, lalu saat tiba waktu pertemuan, kita tampilkan performa paling baik, untuk saudara-i kita itu.
Jikapun tak seperti muhajirin-ansor, kita tetap saja tengah belajar memiliki sifat kedua kaum itu. Saling berbagi punggung, berbagi tanah, berbagi cinta. Tak seperti Abu Bakar dan Umar, tapi ukhuwah kita tak kalah tegas, sama-sama memberi warna masing-masing, setegas pelangi, sejelas dan seterang bintang di langit. Tak seperti Ashabul Kahfi, kita tetap memaknai hikmah keteguhan mereka. Karena ukhuwah kita adalah tentang kita, mengalir tanpa dipaksa, bersahut-sahutan bagai gema suara, saling memunggungi untuk rehatnya jiwa. Kadang kita sama-sama keras, berbenturan, yang akirnya menyadarkan. Kadang kita menjadi bulir-bulir pasir pantai, yang sibuk dan berebut untuk tidak tersapu gelombang, saling berkejaran, saling berkompetisi, tapi di sisi lain, kita sedang berusaha saling menyelamatkan. Dalam jamaah. Kadang kita malah berbeda, aku batu dan kau air, yang lain lagi malah pasir atau semen. Namun kesatuan dari kita mnegukuhkan, menghasilkan pondasi yang menguatkan.
Bahagia bukan, bagimana setiap celupan memberikan warna-warna khas dalam ukhuwah yang digores di atas kanvas sederhana ini. Awalnya hanya dari keinginan, berakhir pada sebuah karya imajnasi indah. Mencipta sejarah. Bahkan diagung-agungkan. Jika aku jingga, kau merah, dan yang lain nila. Kita tetap saja sama celupannya. Dicipta untuk mencipta. Bahkan menariknya, kita tak pernah dilahirkan dalam satu rahim, tak pernah dipertemukan sebelumnya, bahkan pada awalnya belum tentu memiliki visi yang sama. Namun ukhuwah, merangkum kita dalam satu persatu kata yang bergugusan menjadi kalimat. Kita layaknya mozaik yang disatukan karena alasan sesuatu. Kau percaya bukan, dari sekian banyak orang, aku kadang sering bertanya, kenapa Allah memilihmu? memilih kalian? Memlihku? untuk memulai misi ini sama-sama, jadikan kain kumalku menjadi seolah baru. Cerahnya mengalahkan mentari. Membawa aku banyak belajar makna perkenalan, tak hanya sekedar berpapasan, tapi nasehat dan menasehatinya itu yang begitu menyenangkan.
Ini ukhuwah kita, biar kita mewarnai setiap diksinya dengan celupan Allah. Menjadikannya majas-majas yang tegas. Betulkah begitu??

Advertisements

Serba Syar’i [cerpen]

Subuh itu bintang masih semangat menebar cahaya anggunnya di langit. Bulanpun ikut memandangi bebintang itu penuh temaram. Semangat itu tetap saja terkalahkan oleh semangatnya, Rindu. Gadis belia ini selalu punya optimistis yang luar biasa. Jiwa mudanya bisa saja mengalahkan dedaunan padi yang khusuk bertahmid di pagi berembun itu. Rindu selalu begitu. Ba’da shalat subuh di masjid, ia siap sedia mengayuhkan sepedanya lagi untuk menuju suatu tempat yang penuh cahaya. Tempat yang akan semakin bercahaya setelah kedatangannya. Ah, seperti namanya, iapun akan selalu dirindukan oleh orang-orang di tempat itu.
“Pagi nak rindu..” sapa ibu separuh baya yang berpapasan dengannya dijalan. ”Assalamu’alaikum ibu..” sapanya balik, sembari tersenyum ”Wa’alaikumuusalam..he” jawab ibu itu sambil tersenyum malu, karena lupa semestinya menegur seseorang dengan salam. Setelah memelankan sepedanya karena bertemu ibu tadi, rindu kembali bergegas, hos dan hos. Kayuhannya semakin cepat dan giat. Tempat yang ia tuju sekitar 1 Kilometer dari masjid, tempat yang penuh cahaya itu selalu ia nantikan setiap pagi. ”alhamdulillah” lenguhnya pelan, setelah akhirnya sampai ke tempat yang ia tuju. Seperti biasa, para ibu-ibu, anak-anak, dan teman sebayanya sudah duduk rapi melingkar disana.
”Rindu telat ya bu?” tanyanya sambil menciumi tangan ibu-ibu yang ada di sana, sambil kemudian cepika cepiki, pun dengan teman usia sebayanya dan anak-anak kecil. ”tidak koq nak, kami juga baru sampai”. Hari ini tempat itu penuh sekali, mengalahkan pagi-pagi sebelumnya. Ia sangat bahagia melihat hal itu, semangatnya semakin membuncah. Tak sabar rasanya segera berbagi apa yang telah ia dapatkan dari tentornya. Selanjutnya ia duduk merapat di sekitar lingkaran itu, mulailah acara itu dengan pembukaan seperti biasa. Setelah selesai tadarus bersama, Rindupun menyiapkan materinya hari ini.
”hari ini kita bahas tentang persaudaraan ya ibu-ibu, mbak-mbak, temen-temen dan adek-adek..” Semua menanggapi dengan antusias.

***
Keningnya mendadak mengkerut membaca sebuah tulisan yang terdapat di mading mushalah, dari judulnya saja sudah buat #jlebb. Ia coba amati dengan seksama tulisan itu judulnya ”serba syar’i”.
”aku merindu, saat kita tilawah bersama. Mentadabur Al qu’an bersama, dalam sebuah cahaya cinta utuh. Aku rindu, saat kita berlomba-lomba menghafal surat, saat kita berlomba-lomba menyehatkan jasmani kita, atau.. ketika kita berkejaran dengan waktu untuk mengahadiri sebuah I’lant. Aku rindu, rindu cerita panjang lebarmu. Rindu tatapan seriusmu terhadapku. Aku rindu tegurmu, dan tentunya..aku rindu ukhuwah kita.
Kini semua bagimu serba syar’i. kau sungguh sibukkah? Begitu tinggi jam terbangmu, membuatku serasa sulit untuk sekadar menangkap senyum teduhmu. Aku rindu..kau.. semoga alasan yang serba syar’i itu tak membuat kita lupa, tentang ukhuwah yang terlalu indah untuk dilupakan ini. Dan biarkan, dengan alasan serba syar’i, aku akan tetap mencintaimu sebagai saudara seiman, karena kesyar’ian sebuah persaudaraan itu adalah ikatan iman yang sesungguhnya…”
Ada gelegar dihatinya, seolah disambar gemuruh, hatinya ingin runtuh. Ia terlalu sibuk, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar saudara-saudari sefakultasnya. Bahkan, ia sudah sangat begitu jarang untuk sekedar mengunjungi mushalah yang selama ini banyak menyimpan cerita. Agenda eksternal terlalu menyita waktunya, hingga ia benar-benar alfa kepada teman-teman seperjuangannya, adik-adik penerus estafet dakwah, dan.. semua cita-cita untuk fakultasnya. Rindu terdiam dalam keheningan yang pias menyambarnya. Ia merasa sangat bersalah. Setiap ada syuro’ fakultas, ia selalu beralasan “afwan lagi ada syar’i” atau afwan-afwan lainnya, yang tanpa sadar telah begitu menggunung, pun mungkin disertai kekecewaan dalam hati saudara-saudarinya. walau mungkin mereka sudah terlalu biasa untuk mendengar kata afwan, namun rasa bersalahnya tak mampu ia bendung lagi.

***
“bukan kata afwan, dan seberapa banyak agenda yang kita syar’ikan yang menjadikan dakwah ini ramai peminat. Tapi, bagaimana komitmen kita. Kita hanya manusia-manusia akhir zaman, yang Allah pilihkan untuk berada di jalan yang begitu sulit ini. Seberapa banyakpun amanahmu, konsekuensinya adalah kau harus semakin pandai dan dewasa memilih dan memilah, iya fiqh Awliyatnya.”. Ucapannya membuat rindu semakin kerdil di dalam ruang syuro’ berukuran sedang itu. Ia tersentak, rasa perih menyambarnya. Bukanlah ia tak terima dengan nasehat itu. Namun, justru ia sangat-sangat merindukan nasehat penguat seperti itu. Hingga tanpa ia sadar, ada yang memerhatikannya sedari tadi ”anti kenapa ukh?” tanya akhwat disampingnya. Mungkin sedari tadi ia dengan seksama mengamati Rindu, yang menunduk terdiam. ”ndak papa ukh, lagi meresapi kata-kata tadi.” Mereka berduapun saling tersenyum. Usai syuro’ yang telah lama tak pernah ia hadiri, dari kejauhan salah seorang akhwat memanggilnya. Rindu menoleh, membiarkan akhwat itu mendekatinya. Akhwat ini, ia masih ingat bagaimana perjalanan setiap sore bersamanya untuk menghabiskan waktu syuro’. Akhwat ini masih seperti dulu, tak ada yang berubah.
“apa kabar ukh?” tanya Rindu memecah keheningan yang tersembunyi rapi dibalik pundak-pundak mereka, “alhamdulillah khoir..anti?” “Alhamdulillah ukh…”. ada rasa kelu yang membuat kata-kata menjadi beku begitu saja, sulit sekali untuk mencairkan suasana.
“ukh ane pulang duluan ya, ada…” “iya..” tungkasnya, sebelum Rindu menyelesaikan kalimatnya. Setelah selesai bersalaman mereka pun berpisah, di temani suara udara dari nafas-nafas mereka yang terasa berat.

***
: Ukh, besok ada waktu ndak? Ane pengen ketemu sama ukh Rindu, kangen.. 🙂 :

Lagi-lagi Rindu bingung, besok itu ada pertemuan dengan ibu-ibu desa yang sudah diagendakan. Tetapi ia juga Rindu terhadap saudarinya itu. Seandainya ada orang lain yang bisa menggantikannya, ia akan memilih bertemu saudarinya. Ia berpikir keras..

Tiktoktiktok…

:Ok, InyaAllah ukh. Tapi pagi ya..? :):

Massage send..

:Alhamdulillah, oke InsyaAllah, di tempat biasa ya ;):

Jam menunjukkan pukul 8, setelah melakukan senam pagi dengan ibu-ibu seperti jadwal biasa. Rindu bersegera memarkir sepeda tuanya di tempat biasa. Tak lupa ia menggemboknya. Melihat gembok itu, ia jadi ingat acara tuker kado dalam lingkaran lamanya. Rindu mendapatkan hadiah gembok yang sangat-sangat bermanfaat baginya. Ia tersenyum mengingat kenangan itu, kemudian bergegas berjalan. Jalan setapak itu dijatuhi ratusan titik air yang tumpah semalam, menyebabkan jalanan becek dan berkubang. Rindu tak bisa berjalan lebih cepat dari biasa. Karena ia masih banyak agenda dan mesti menjaga peformanya dalam agenda-agenda itu. Setelah sekitar 20 menit berjalan, ia harus menaiki angkutan umum untuk sampai ke tempat dimana ia menaruh janji. Setelah menemukan angkutan yang pas, Rindu mengambil posisi dipojok angkutan itu. Tak disadarinya, rintik-rintik di luar mulai membasahi kaca angkutan itu. Menghasilkan perembunan, hatinya terlalu gusar untuk menyadari hal yang biasanya akan dia nikmati.
Perjalanan memang sedikit lama, sekitar 30 menit. Itupun jika angkutannnya tidak banyak stop. Setelah merasa tempat yang dituju akan sampai, rindu bergegas menghentikan angkutan itu. Ia tak sadar, gerimis tadi telah berubah menjadi hujan yang lumayan deras. Turunnya dari angkutan itu ia bergegas mencari tempat berteduh, yang tanpa disadari mempertemukanya dengan orang yang membuat janji dengannya. ”Rindu..” ucap akhwat itu lembut, sambil menyalami dan memeluk saudaranya itu. Ada sesuatu yang membuncah di dada Rindu dalam pelukan itu. Kemarin ia tak begitu sempat ngobrol banyak dengan saudarinya itu. Hari ini, perasaan rindu itu harus ia tuntaskan. ”Yen, mbak kita apa kabar ya?” tanyanya memecah bisingnya tumpahan air dari langit. ”baik rin, sangat baik..” ”alhamdulillah..”. kemarin mereka berdua satu halaqah, tetapi akhirnya harus berpisah. Semenjak sibuk dengan amanah masing-masing, juga sibuk dengan kewajiban masing-masing, mereka berdua jadi sangat jarang bertemu.
”eh Yen, ngomong-ngomong gimana, lancar aja kan dengan amanah barumu?”. Yenni hanya tersenyum mendengar pertanyaan saudaranya. Ia bingung harus menjawab apa, entah definisi lancar seperti apa yang harus Rindu dapatkan dari jawaban saudarinya itu.

————Setelah ngobrol ringan, di luar bahasan jamma’ah dan ummat. Mereka harus berpisah. Tapi sebelum pergi, Yenni tak lupa mengelurkan sesuatu dari dalam tasnya. Bungkusan kecil. Yenni memang sangat suka memberikan hadiah buat saudari—saudarinya, terkhusus untuk Rindu. ”ukh ane punya ini untuk anti, dijaga ya..” ia mneyodorkan bungkusan kecil itu kepada Rindu. Rindu menerimanya dengan senang hati, lantas berkata ”tapi Rindu belum sempat memberikan sesuatu buat anti ukh, afwan ya..” ucapan Rindu, hanya diekspresikan Yenni dengan senyum paling hangat miliknya. ”di dalam itu ada pesan, jawaban dari pertanyaanmu tadi.hehe dibaca ya ukhty sayang..” ucapnya, sambil memeluk erat saudarinya itu. Merekapun berpisah, bersama ribuan tempo yang dinyanyikan air-air langit. Rindu masih ingin lama bersama saudarinya itu..

***
“Andai dakwah bisa tegak dengan seorang diri, tak perlu Musa mengajak Harun, tak perlu pula Rasulullah mengajak Abu Bakar untuk menemaninya hijrah. Meskipun pengemban dakwah itu seorang alim, faqih dan memiliki azzam yang kuat, tetap saja ia manusia lemah dan akan selalu membutuhkan saudranya meskipun saudaranya itu memiliki banyak keterbatasan. Jagalah dia dan jangan kau sia-siakan saudaramu, karena ia sangat mahal harganya dan mungkin ialah yang selalu mendo’akanmu dalam setiap langkah-langkahmu..”
Tes.. air matanya menghasilkan genangan, bingkisan itu ternyata kalimat-kalimat motivasi dalam sebuah buku agenda hijau muda, yang pernah Rindu berikan buat Yenni dulu. Sewaktu Rindu yang menjadi Qiyadahnya. Dan sekarang posisi mereka berbalik, pilihan Rindu untuk mengutamakan amanah eksternal membuatnya harus perlahan melepas amanah kampusnya. Belum lagi kondisi orangtuanya yang sakit-sakitan, nyatanya amanah yang lebih berat untuk ke estafet selanjutnya harus direguk oleh saudari seperjuangannya itu, Yenni. Ia yakin, Yenni memang pantas mendapatkan amanah itu, karena komitmennya jauh lebih baik dari Rindu. Dan sekarang Yennilah Qiyadahnya, yang harus ia patuhi, yang harus ia bantu dengan menggenggam tangannya, berjalan beriringan. Di akhir buku itu juga terdpat tulisan tambahan dari Yenni..”
“Aku memang Qiyadahmu, tapi aku tak lebih baik darimu. Maka bantu aku. Jika aku salah tegur aku, jika aku benar ikutilah jalanku.. ukhty, aku tak jauh lebih baik darimu, namun adakala aku butuh, sekedar sapamu, tanyamu, atau balasan SMSmu..
Ukhuwah kita sederhana, tapi kecintaan kita pada dakwah ini terkadang begitu rumitnya. Kesibukanku-kesibukanmu..membuat semuanya terbatas. Tapi aku yakin, kesamaan do’a-do’a kita selalu menjadikan rindu pengkitanya, Rabitha buatmu selalu from yenni”.

***
Sesungguhnya apa yang harus kita kerjakan, jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia. Tapi tak semua menyadari dan merasakan hal itu. Maka bersyukurlah selagi Allah mengizinkanmu untuk memiliki kesibukukan yang bermanfaat, karena sungguh kaulah yang terpilih. Tapi jangan kau lupa, ini adalah tugas bersama, yang harus ditanggung bersama, maka jangan kau lupakan hak atas saudara-saudarimu. Berbagilah pundak, berbagilah hela, dan nikmatnya dakwah akan kau rasa. Berseriuslah, apapun amanah itu.

Kisah Tahu-Tempe di Negeri Agraris

Indonesia merupakan negeri agraris, namu pertanyaannya sudahkah Indonesia yang secara fitrahnya merupakan negeri agraris menunjukkan jati dirinya? Halini selalu menjadi perhatian tersendiri, mengingat kondisi pertanian di Indonesia belum mampu mensejahterakan petani secara keseluruhan. Indonesia sebagai negeri agraris seolah hanya menjadi simbol yang hanya dapat dilihat dari kondisi geografisnya. Sedang kondisi kekinian Indonesia sebagai negeri agraris sama sekali tidak sesuai dengan kata agraris. Sebagai negara yang secara administratif memiliki daerah yang menguntungkan dari segi pertanian, negara ini belum bisa menjadikannya dinamis dalam tataran aplikatif.  Kenapa Indonesia semakin kehilangan pencitraannya sebagai negeri agraris?

Berita yang sedang hangat-hangatnya terdengar saat ini adalah kabar bahwasanya orang-orang pembuat tahu-tempe kewalahan. Hal ini disebabkan karena kedelai sebagai bahan baku pembuat bahan makanan khas Indonesia itu kesulitan untuk didapatkan. Padahal petani Indonesia juga menanam dan memproduksi tanaman kedelai, akan tetapi sayangnya kedelai yang ditanam oleh petani Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan nasional. Lagi-lagi fitrah negeri ini sebagai agraris seolah kehilangan pesonanya. Bukan hanya di luar tetapi juga di dalam negeri sendiri. Parahnya pertanian saat ini malah dipandang orang-orang makin emplisit. Tak banyak seorang menilai pertanian hanya bagian dari caping, cangkul, dan pak tani- buk tani. Padahal ketika kita bicara terkait masalah pertanian. Bahasannya tidak akan sesederhana itu. Pertanian merupakan aspek yang sangat luas dalam negeri ini, jika dihubungkan dengan bidang lain. Akan ada kait-mengait, ibarat rantai yang tak bersimpul. Revolusi hijau merupakan salah satu bukti pertanian merupakan ahal yang pokok di negeri kita. Bagaimana saat itu ketika krisi, pertanianlah yang dapat membantu bangsa ini dalam menanganinya.

Tentang kedelai

Kedelai (genus Glycine) merupakan jenis tanaman pangan yang tergolong ke dalam rumpung tanaman polong-polongan. Biji kedelai merupakan bahan baku utama pembuatan makanan pokok khas bangsa Asia bagian Timur, seperti China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, hingga ke kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia sudah sejak lama biji kedelai dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan tahu dan tempe sebagai salah satu makanan pokok untuk mensuplai kebutuhan protein nabati (Kusuma, 2012)

Ada dua macam jenis tanaman kedelai yang masing-masing memiliki karakteristi sebagai tanaman pangan,yaitu kedelai putih (Glycine max) dan kedelai hitam (Glycine soja). Kedelai putih memiliki biji kedelai berwarna kuning atau putih atau agak hijau. Jenis kedelai putih merupakan jenis tanaman subtropik yang biasanya tumbuh di wilayah China dan Jepang (dan wilayah subtropik lainnya seperti Amerika). Sedangkan kedelai hitam yang memiliki biji kedelai berwarna hitam merupakan jenis tanaman tropik yang ditemukan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kedelai putih yang sebenarnya paling digemari, karena memiliki biji yang lebih besar, serta lebih mudah untuk diolah menjadi tahu ataupun tempe (Kusuma, 2012).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2011 produksi kedelai lokal hanya 851.286 ton atau 29 persen dari total kebutuhan sehingga Indonesia harus mengimpor 2.087.986 ton kedelai untuk memenuhi 71 persen kebutuhan kedelai dalam negeri. Tahun 2012, total kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,2 juta ton dan 83,7 persen diantaranya untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk untuk pengrajin tahu-tempe. Kebutuhan industri Kecap, Tauco, dan lainnya hanya 14,7 persen dan benih 1,2 persen.

Permasalahannya adalah kenapa ketersediaan kedelai masih belum mencukupi kebutuhan nasional? Menurut Harry (2012), masalah pemenuhan kebutuhan kedelai dalam negeri lebih terjadi karena pemerintah tidak memberikan perlindungan atau insentif kepada petani kedelai, membuat mereka tidak bisa mendapat keuntungan layak dari menanam kedelai. Petani kedelai tak dilindungi pemerintah misalnya dengan menetapkan Harga Patokan Pemerintah atau HPP.

Petani bukanlah pihak yang paling menentukan harga akhir, melainkan lebih banyak ditentukan oleh distributor yang sekaligus berperan sebagai spekulan. Dengan masuknya kedelai impor, pihak petani kedelai tidak bisa begitu saja menetapkan harga, sehingga akan membuat biaya oportunitas menanam kedelai menjadi semakin tinggi ( Kusuma,2012). Hal ini akan membuat tengkulak atau pedagang pengumpul akan semena-mena mematok harga di tingkatan petani dan pasar. Contohnya menurut Harry (2012) Petani kedelai hanya bisa menjual kedelai seharga Rp4.000 per kilogram sementara tengkulak bisa menjual ke pasar dengan harga Rp6.500 per kilogram.

Permasalahan ini lagi-lagi menjadi permasalahan pokok dalam bidang pertanian khusunya terkait pemasaran produk pertanian. Adanya tengkulak disatu sisi mampu membantu petani dalam menjual hasil produksinya, namun disisi lain lebih banyak kerugian yang diakibatkan oleh tengkulak. Ketika petani memilih untuk menjualnya secara eceran, maka petani takut menanggung resiko kerusakan hasil produksinya. Itulah kenapa menjual hasil produksinya kepada tengkulak selalu menjadi pilihan.

Tanaman kedelai sempat mengalami masa gemilang dengan dicapainya swasembada kedelai pada tahun 1992. Produksi kedelai pada masa itu mampu mencapai angka 1,88 juta ton per tahun, bahkan mendekati 2 juta ton kedelai. Setelah masa reformasi, atas saran dari IMF, pemerintah Indonesia diharuskan untuk melepas campur tangannya dalam tata kelola pertanian untuk tanaman kedelai. Akibatnya, setelah tahun 2000, produksi kedelai di dalam negeri tidak pernah mencapai angka 1 juta ton atau rata-rata hanya mencapai sekitar 0,88 ton. Sementara itu, setelah tahun 2004, rata-rata konsumsi kedelai di dalam negeri telah mencapai di atas 2,6 juta ton. Ini berarti hampir dua per tiga pasokan kedelai di dalam negeri didatangkan dari mekanisme impor (Kusuma, 2012).

Pada hakekatnya kita tidak harus terjebak lagi dalam kesalahan yang sama. Sudah semestinya pemerintah mulai memikirkan nasib para petani, karena permasalahan terkait harga pokok ini tidak hanya terjadi pada komoditas kedelai. Tetapi untuk semua komoditi, sehingga membuat petani enggan untuk memproduksi lagi komoditas tersebut. Kita sebagai negara yang memiliki ketersediaan lahan yang cukup luas dengan berbagai jenis tanaman yang dapat dihasilkan, sudah seharusnya justru menjadikannya sebagai aset untuk negara kita. Walaupun saat ini perdagangan bebas dari aspek pertanian telah diterapkan diberbagai negara, kita juga harus memikirkan sektor pembangunan bangsa dengan tidak ”latah” untuk mengikuti  kebijakan luar tanpa menyesuaikan tempo yang ada. Karena jika kita belum mampu menyamai negara lain, mengikuti sistem perdagangan bebas lama kelamaan hanya akan menggerus kondisi pertanian kita menuju titik paling kritis. Prinsip dan pengertian mekanisme persaingan yang sehat atau mekanisme pasar haruslah mengacu pada kepentingan pasar di dalam negeri, bukan kepentingan pasar internasional. Hal ini dikarenakan Indonesia masih memiliki potensi dan kemampuan untuk memproduksi ataupun memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Maka dari itu ada banyak hal yang harus dibenahi terkait sektor pertanian, agar kesejahteraan petani tidak hanya dirasakan oleh orang-orang tertentu saja. Tetapi dirasakan semua petani. Sehingga Indonesia sebagai negeri agraris dapat mengembalikan khasanahnya yang semakin pudar.

 

Sumber:

Kusuma, Leo. 2012. Kisruh Harga Komoditi Kedelai. Diakses (Online). (http://leo4kusuma.blogspot.com/2012/07/mengenai-kisruh-harga-komoditi-kedelai.html, diakses 28 Juli 2012).

AntaraNews.com. Peneliti Indonesia banyak hasilkan kedelai varietas unggul. (Online). (http://www.antaranews.com/berita/323713/peneliti-indonesia-banyak-hasilkan-kedelai-varietas-unggul, diakses 28 Juli 2012).

Dakwah bil Profesi: Konsep Pertanian Organik, Cara cerdas untuk Indonesia Lebih Cerdas

      Bagi sebagian orang, gaya hidup praktis saat ini hampir menjadi tuntutan. Akan tetapi semestinya kita tetap menjaga gaya hidup sehat, meskipun hidup serba praktis lebih dipilih menjadi tabiat. Mie merupakan salah satu contoh makanan praktis yang sebenarnya kurang sehat untuk dikonsumsi. Sayangnya justru tak jarang mie menjadi pilihan ketika tidak ada makanan lain di rumah. Bahkan terkadang anak-anak lebih menyukai makan mie ketimbang masakan ibunya. Hal ini sangatlah miris mengingat banyaknya aktivis perempuan, tetapi banyak juga yang hanya pandai di luar dengan segudang pengetahuan dan dialetikanya, namun saat di rumah nyatanya tidak memiliki kemmapuan apa-apa termasuk memasak.

      Berbicara tentang pola hidup praktis yang sedang menjadi tuntutan setiap orang, khususnya orang-orang yang memiliki jam kerja tinggi, membuka gerbang pemikiran penulis bahwa pola yang dianut hampir sebagian orang di Negara kita merupakan pola yang diterapkan barat. Jika dihubungkan dengan barat, dapat membuka pikiran kita bahwasanya itu merupakan bagian dari trik mereka dalam menggencarkan perang pemikiran. Apa itu perang pemikiran? Ghazwul secara bahasa artinya serangan, serbuan, invasi, sedangkan fikr adalah pemikiran. Sedangkan secara istilah ghazwul fikr artinya penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal yang tidak islami. Perang pemikiran bisa diibaratkan ketika seseorang ingin mengambil sebuah kue yang terletak di atas tikar, cara mengambilnya tidak dengan menginjakkan kaki ke tikar itu, maka cara yang dilakukan adalah dengan cara menggulungnya.

      Perang pemikiran yang dilakukan, hanya dapat dikalahkan juga dengan pemikiran. Beberapa yang tengah dilakukan oleh mentri-mentri kita contohnya mentri Medkominfo bapak Tifatul Sembiring yang mulai menutup situs-situs “terlarang”. Begitu juga yang dilakukan oleh Mentri Pertanian yang tengah menggencarkan lagi konsep pertanian organik untuk semua petani, juga swasembada pangan di Indonesia.

    Apa itu pertanian Organik? Dan mengapa ini bisa dijadikan jurus jitu dalam menangkal perang pemikiran?. Menurut Miftakhuljanah et al (2011), Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Back to Nature”tren baru tersebut telah bermunculan dimana masyarakat menginginkan sesuatu makanan yang benar-benar serba alami, kurang dan bebas dari zat kimia. Produk organik dianggap memenuhi persyaratan tersebut sehingga permintaan dan peluang pemasarannya meningkat. Permintaan dunia akan pangan organik meningkat tajam dan demam pangan organik melanda dunia bukan saja di bidang pangan, tetapi juga meluas ke bidang nonpangan.

     Penggunaan pestisida yang berlebihan saat ini dapat menggambarkan bahwasanya, para petani sedang tidak menerapkan konsep pertanian organik lagi. Beberapa hal yang sangat berbahaya terkait penggunaan pestisida yang berlebihan adalah sebagai berikut:

1.  Dampak Bagi Kesehatan Petani

Penggunaan pestisida bisa mengontaminasi pengguna secara langsung sehingga mengakibatkan keracunan. Dalam hal ini, keracunan bisa dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu keracunan akut ringan, keracunan akut berat dan kronis.

2.   Dampak Bagi Konsumen

Dampak pestisida bagi konsumen tidak langsung terasa, tetapi perlahan-lahan akan meracuni bahkan bisa mematikan.

3.   Dampak Bagi Kelestarian Lingkungan

Bagi lingkungan pestisida bisa merusak ekologi, baik itu ekologi lingkungan maupun manusia. Secara lambat laun penggunaan pestisida bisa mencemari lingkungan dan efeknya bisa tidak akan hilang bertahun-tahun. Pestisida juga bisa menyebabkan berkurnagnya kadar hara dalam tanah, pestisida yang bersifat racun ketika mengenai tanah akan membunuh mikroorgnisme yang sebenarnya dibutuhkan untuk menghasilkan hara dalam tanah.

       Pestisida merupakan racun yang apabila masuk ke tubuh secara perlahan-lahan dapat membunuh manusia. Sehingga pestisida bisa dikatakan sebagai sarana yang pas bagi pencetus perang pemikiran. Karena dengan membunuh kita secara perlahan akan lebih baik, daripada mematikan kita dengan tangannya. Sehingga dengan ini Negara Indonesia yang merupakan Negara dengan mayoritas muslim terbesar lambat laun akan kehilangan regenarasinya. Ironisnya lagi, Indonesia sebagai Negara agraris merupakan salah satu pengonsumsi terbesar pangan yang di impor dari luar negeri. Petani di Indonesia juga termasuk pengguna pestisida aktif. Kecendrungan ini adalah akibat sikap praktis yang mulai menggerogoti pikiran petani kita. Walaupun ada juga petani yang mulai menerapkan pertanian organik dan menggunakan pestisida ala kadarnya, namun sudah menjadi kewajiban bagi para pakar pertanian untuk mulai menanamkan paham kepada para petani bahwasanya penggunaan pestisida yang berlebihan sangatlah tidak baik, karena tidak hanya akan membunuh si pengonsumsi pangan berpestisida tetapi juga bisa membunuh petani itu sendiri dan tentunya akan merusak lingkungan.

        Apabila para generasi penerus bangsa mengonsumsi pangan yang sehat dan bebas pestisida, itu artinya juga akan mencetak generasi yang cerdas dan sehat. Dengan adanya konsep pertanian organik yang menjunjung tinggi adab-adab terhadap alam di Negara kita, maka kita bisa kembali menyelaraskan diri dengan kondisi alam. Artinya, secara lambat laun akan menyadarkan kita bahwasanya setiap manusia yang hidup dalam lingkungan memiliki tangung jawab yang besar dalam menjaga lingkungannya. Maka ambillah apa yang ada di alam itu ala kadarnya, sesuai dengan kebutuhanmu saja. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan…

Kita tidak hanya berdakwah sekedarnya ||Kita punya targetan ||Kita punya visi misi

Sumber:

Miftakhuljanah, Oktaviana. Zulfikri. Permata Rinda. Aulia Maranggi. 2012. Pusat Kesehatan Tanaman “Back to Nature”, Upaya Menuju Pertanian Sehat Dengan Konsep Organik. Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian.