Category Archives: geje!

Hari ke SATU

Lihatlah, aku sedang apa? Temaram pada pancaran lampu laptop berwatt yang aku tak mengerti ukurannya. Membuka word, membiarkan lagi nada-nada toets keyboard yang persis lagu-lagu tempo dulu berdesakan. Rusuh. Resah. Mengaduk-aduk pusat syarafku. Memamahbiakkan persekian detik yang akhirnya berlalu (lagi). Di atas laptop tak lebih dari separuh usia mantan hapeku.
Di sini sedang hening, hanya dengkingan suara campur sari yang tengah memporak-porandakan imajinasi liarku. Kacau. Ia sangat menggagu. Ini malam selasa. Menuju hari ke satu.
Akhir-akhir ini atau semenjak lembaran kertas mengusik perhatianku, aku sering lupa tanggal, lupa hari, dan melupakan yang harus dilupakan!
What about? Bukan hal-hal macam di atas yang ingin aku titihkan, aku hanya ingin menampiaskan kataku di dasboard putih yang telah berulangkali ku ganti tema. Aku mudah bosan? Iya- untuk beberapa hal saja!
Maka maaf jika berulang kali, kata yang ku ketikkan berdesakan tanpa makna. Ia tanpa izin masuk, mengomandoi beberapa sarafku untuk terus bergerak. Mencaci sendiri. Memuja sendiri. Tertawa sendiri.
Hari ke satu?
Apa yang akan kau lakukan ketika kau mendapatkan hari baru dari sekian banyak hari. Memulai-mengakhiri. Bertemu-berpisah. Mengamati-mengabaikan. Mengingat-melupakan. Ada jiwa-jiwa paradoks dalam diri kita, yang kadang membuat apa yang diperintahkan pusat syaraf sungguh berbeda dengan maksudan hati. Sulit. Ibaratnya pada bagian-bagian kulit ini. Aku adalah kutikula, yang tak lazimnya mengelupas, tapi tahu-tahu saja ingin mengelupas. Begitulah. Paradoks. Dalam sekian detik kita bisa menginginkan tubuh untuk berdiri, tetapi kita mencegahnya, yang kita lakukan justru tetap duduk. Diam mengamati.
Hari ke Satu?
Tentang resolusi? Tentang peta hidup? Tentang apa sajalah. Aku sedang merasa rumit. Padahal sebenarnya sedang menikmati atas izin Allah padaku. Tapi di sisian lainnya, aku merasa biasa-biasa saja. Paradoks bukan?
Hari ke satu?
Ah ku rasa, semua yang mesti kita lakukan tak harus di hari ke satu ini. Ada banyak hari-hari yang juga tak jauh lebih menarik. Bahkan kita bisa lakukan apapun dihari-hari sebelumnya. Kadang orang-orang sengaja membuat moment untuk mengenangnya, seperti tanggal lahir, tanggal jadian, tanggal pernikahan, aku juga suka sih *walau untuk akhir-akhir ini, aku sering lupa* lagi payah!——
Sekarang aku coba menekan kelopak-kelopak mataku, ingin tidur lebih cepat. Tapi lihatlah, pupilku masih saja bergrilya mencari padanan kata yang pas. Simpul-simpul yang bisa ditarik, kemudian dipadupadankan. Jadi intinya ini untuk angka SATU——-
Aku sedang belajar memahami, bagaimana hujan ikhlas jatuh, tanpa membenci angin dan langit yang menjatuhkannya. Bagiamana lilin rela musnah, tanpa membenci api yang membinasakannya. Bagaimana akar rela tersembunyi, tanpa meminta daun membagi indahnya panorama dunia diluar sana. Bagaimana jantung tetap berdegup, sekalipun letaknya tak sejelas kulit selulit. Aku sedang belajar memahami, kenapa huruf vokal dan huruf konsonan tak pernah protes ketika digabungkan, bukankah mereka berbeda?

Aku sedang belajar memahami, sejak bertahun-tahun lalu. Ternyata memahami tak semudah mempelajarinya. Ada banyak orang yang mau belajar, tapi ia tak mau sama sekali memahami.

I knew u, just a half from this story begining –krik krik
[dan itulah, aku sering paradoks. Ingin mengetik apa. Ingin menulis apa. Berakhir dengan apa. Closing statmennya kemana. Kalian boleh tertawa atau mencerca] :p

Advertisements