Category Archives: pilihan-pilihan

tak selamanya titik

Dalam memilih tak selamanya titik. Ada saat dimana kita benar-benar tak bisa mengabaikan koma. Namun justru membiarkan tanda tanya kembali muncul. Mengakselarasi pilihan-pilihan kita, menjadi kalimat-kalimat baru yang (mungkin) rancu. Tak selamanya titik memang, tapi memilih adalah konsekuensi. Terlepas kita bertahan, atau tetap melanjutkan perjalanan menuju deru pilihan selanjutnya. Tapi beratnya, kadang kita harus tersendat untuk menahan munculnya pilihan yang anomali. Menghasilkan analisis yang menolak semua hipotesis. ah, lupakah. masih ada Allah yang menentukan kapan kita mesti memegang atau melepas genggaman. Bisa jadi yang anomali itu telihat bias, tapi itu yang terbaik dariNya,

Tak selamanya titik, bisa juga bukan koma. Kita hanya butuh kata penghubung yang membuatnya menjadi baku. Masuk dalam kamus kepastian, bisa jadi. Tapi yang terpenting adalah, dalam memilih tak menjadikan hati kita defisit tak hingga. Membuat kita rugi tak terbilang, sampai di titik impas. Yang semestinya, memilih menghasilkan zero profit bagi diri kita. Sebenarnya hanya satu rumusnya, BERSYUKUR.

yang terbaik tak pernah datang terburu-buru, ia selalu datang tepat waktu

Advertisements

Hari ke SATU

Lihatlah, aku sedang apa? Temaram pada pancaran lampu laptop berwatt yang aku tak mengerti ukurannya. Membuka word, membiarkan lagi nada-nada toets keyboard yang persis lagu-lagu tempo dulu berdesakan. Rusuh. Resah. Mengaduk-aduk pusat syarafku. Memamahbiakkan persekian detik yang akhirnya berlalu (lagi). Di atas laptop tak lebih dari separuh usia mantan hapeku.
Di sini sedang hening, hanya dengkingan suara campur sari yang tengah memporak-porandakan imajinasi liarku. Kacau. Ia sangat menggagu. Ini malam selasa. Menuju hari ke satu.
Akhir-akhir ini atau semenjak lembaran kertas mengusik perhatianku, aku sering lupa tanggal, lupa hari, dan melupakan yang harus dilupakan!
What about? Bukan hal-hal macam di atas yang ingin aku titihkan, aku hanya ingin menampiaskan kataku di dasboard putih yang telah berulangkali ku ganti tema. Aku mudah bosan? Iya- untuk beberapa hal saja!
Maka maaf jika berulang kali, kata yang ku ketikkan berdesakan tanpa makna. Ia tanpa izin masuk, mengomandoi beberapa sarafku untuk terus bergerak. Mencaci sendiri. Memuja sendiri. Tertawa sendiri.
Hari ke satu?
Apa yang akan kau lakukan ketika kau mendapatkan hari baru dari sekian banyak hari. Memulai-mengakhiri. Bertemu-berpisah. Mengamati-mengabaikan. Mengingat-melupakan. Ada jiwa-jiwa paradoks dalam diri kita, yang kadang membuat apa yang diperintahkan pusat syaraf sungguh berbeda dengan maksudan hati. Sulit. Ibaratnya pada bagian-bagian kulit ini. Aku adalah kutikula, yang tak lazimnya mengelupas, tapi tahu-tahu saja ingin mengelupas. Begitulah. Paradoks. Dalam sekian detik kita bisa menginginkan tubuh untuk berdiri, tetapi kita mencegahnya, yang kita lakukan justru tetap duduk. Diam mengamati.
Hari ke Satu?
Tentang resolusi? Tentang peta hidup? Tentang apa sajalah. Aku sedang merasa rumit. Padahal sebenarnya sedang menikmati atas izin Allah padaku. Tapi di sisian lainnya, aku merasa biasa-biasa saja. Paradoks bukan?
Hari ke satu?
Ah ku rasa, semua yang mesti kita lakukan tak harus di hari ke satu ini. Ada banyak hari-hari yang juga tak jauh lebih menarik. Bahkan kita bisa lakukan apapun dihari-hari sebelumnya. Kadang orang-orang sengaja membuat moment untuk mengenangnya, seperti tanggal lahir, tanggal jadian, tanggal pernikahan, aku juga suka sih *walau untuk akhir-akhir ini, aku sering lupa* lagi payah!——
Sekarang aku coba menekan kelopak-kelopak mataku, ingin tidur lebih cepat. Tapi lihatlah, pupilku masih saja bergrilya mencari padanan kata yang pas. Simpul-simpul yang bisa ditarik, kemudian dipadupadankan. Jadi intinya ini untuk angka SATU——-
Aku sedang belajar memahami, bagaimana hujan ikhlas jatuh, tanpa membenci angin dan langit yang menjatuhkannya. Bagiamana lilin rela musnah, tanpa membenci api yang membinasakannya. Bagaimana akar rela tersembunyi, tanpa meminta daun membagi indahnya panorama dunia diluar sana. Bagaimana jantung tetap berdegup, sekalipun letaknya tak sejelas kulit selulit. Aku sedang belajar memahami, kenapa huruf vokal dan huruf konsonan tak pernah protes ketika digabungkan, bukankah mereka berbeda?

Aku sedang belajar memahami, sejak bertahun-tahun lalu. Ternyata memahami tak semudah mempelajarinya. Ada banyak orang yang mau belajar, tapi ia tak mau sama sekali memahami.

I knew u, just a half from this story begining –krik krik
[dan itulah, aku sering paradoks. Ingin mengetik apa. Ingin menulis apa. Berakhir dengan apa. Closing statmennya kemana. Kalian boleh tertawa atau mencerca] :p

PULAU MASPARI

Sumatera selatan ternyata luasnya memang lumayan untuk ditempuh dengan jalan kaki, tapi bagi sobat-sobit yang mengaku wong kito asli kayaknya masih banyak yang belum menyusuri keeksotisan yang sesungguhnya dari provinsi yang terkenal dengan cukonya ini. Termasuk saya meii bi. Saya mau sedikit banyak berbagi tentang salah satu keeksotisan yang dimiliki sumatera selatan, berawal dari tempat penelitian yang terlalu berkesan untuk dilupakan. Saya menjadi tertarik menceritakan tempat ini lagi. Maklum derita orang hobby jalan-jalan dan menikmati setiap perjalanan, jadi memori internalnya masih banyak menyimpan kenangan itu. Duh, maaf muqadimahnya terlalu panjang, sebenarnya ini akibat cerita mb multi yang sudah S.kep tentang salah satu pulau di sumsel yang (nyaris saya singgahi) T.T. Jadi mendadak histeris dan penuh penyesalan setelah tau keeksotisan pulau itu, tapi keadaan membuat kami belum berjodoh *halah.
Ok, kalo untuk menjelajah sumsel sendiri sudah beberapa tempat yang saya rasakan udaranya semisal Pagaralam waktu semester 2 (fieldtrip), kemudian lahat tapi dua kali ke sana masih bisa dibilang Cuma numpang lewat, Empat lawang waktu takziah ke salah satu saudari yang ibunya meninggal, Linggau waktu fieldtrip semester tiga yang dilajutkan ke curub kemudian ke Bengkulu, Sekayu waktu nganter kakak test dosen, Kayu Agung (lumayan sering), muara enim pas dua kali walimah kakak sesepuh diorganisasi, ke tanjung enim (kalo gak salah) menikmati panorama air terjun bedegung (maaf juga kalo salah nama). Baturaja pas acara FSLDKD di UNBARA juga pas ada acara di tempat besan. Banyuasin pas ke rumah temen (walopun cuma diperbatasan Palembang-banyuasin, tapi kan sudah masuk banyuasian a.k.a Palembang coret :p), tapi juga pernah ke daerah makarti jaya (fieldtrip) yang msih termasuk kawasan jalur kabupaten banyuasin. Nah untuk daerah penelitian saya yang sedikit buat berdeWOW itu, masih termasuk salah satu kecamatan di kabupaten Ogan Komering Ilir. Untuk menuju kecamatan yang bernama Tulung Selapan sendiri bisa ditempuh dengan jalan darat yang sedikit buat perut dimix, atau dengan transportasi air melalui sungai musi yang juga bisa buat perut sedikit banyak dimix. Jadi saran kalau ada jalan udara, mending sobat-sobit ke sini dengan jalan udara saja (kalo ada). Perjalanan di tempuh dari palembang menuju kecamatan sekitar delapan jam *tanpa macet atau semacam pecah ban -_-. Untuk menuji ke lokasi desa (dalam hal ini tempat saya meneliti) bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3 jam, sekedar saran bagi yang benar-benar berniat untuk ke lokasi shalatnya diJama’ aja, karena speedboat kadang tidak bersahabat bisa mendadak macet dan membuat wkatu tempuhnya menjadi lebih lama *deritah Desa pertama tempat penelitian saya terletak di Desa Simpang Tiga Sakti dusun Lebong hitam, untuk penjabaran desanya bisa dilihat di blog saya yang di sebelah *penting. Nah untuk lokasi penelitian saya yang kedua (walopun gak jadi diteliti), terletak di Desa Kuala Dua Belas dusun Buntuan. Desa ini bisa ditempuh dengan waktu sekitar 2 jam lebih banyak dari kecamatan, desa ini terletak dekat dengan selat bangka. Jika sedang musim kemarau air akan berubah menjadi asin, hal ini lah yang menjadi salah satu yang dieluhkan masyarakat desa. Sarana air bersih masih belum ada di sana, sehingga masyarakat lebih mudah terjangkit penyakit. Sebagai daerah yang dekat dengan areal konservasi, sumberdaya hutan yang sering dimanfaatkan masyarakat di sana yaitu hutan nibung dan nimfa. Desa Kuala Dua belas ini sendiri ternyata terletak tidak jauh dari pulau Maspari yang (gagal) kami kunjungi. Bisa ditempuh dengan waktu tempuh sekitar satu sampai dua jam. Pulau ini ternyata salah satu aset sumsel karena setelah saya selidik lebih dalam banyak sekali potensi sumber daya yang ada di sana yang nyaris rusak. Sobat-sobit bisa melihat apa saja keeksotisan pulau ini di sini http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/05/25/perjalanan-menuju-pulau-maspari/. Maaf karena belum ke sana alias gagal, jadi tidak bisa menceritakan banyak hal tentang pulau ini. Tapi bagi sobat-sobit yang mengaku traveller saya rasa wajib merasakan udara di sana, apalagi untuk orang palembang asli sayang bila belum melihat keeksotisan pulau ini. Karena banyak yang mengeluhkan sumsel gak punya pantai :D. Pulau Maspari sendiri lebih sering dikunjungi para nelayan dari bangka daeran Toboali (tempat adek tingkat 🙂 ). Saran juga tempat untuk dikunjungi kawasan tanjung si api-api. Bisa dilalui dari jalan bandara tapi lurus terus. Cuma saran, karena jalannya kurang baik dan benar, jadi kalo bisa persiapkan bensin dan perbekalan yang banyak kalau berniat ke sini. Saya juga nyaris mengunjungi tempat ini :). Segitu aja ceritanya tentang pulau Maspari, semoga bisa jadi salah satu daftar tujuan sobat-sobit. Salam Traveller! ! 😀

zIgZag

Aku berlari, ku dapati jalan lurus.
Tapi aku malah belok
Aku berjalan, ku dapati jalan mulus.
Tapi ku pilih yang berlumpur duri.
Aku diam, ku dapati teduh.
Tapi ku pilih lanjutkan jalan yang terik.
Aku zigzag,
Kanan-kiri
Aku zigzag
maju mundur
Aku zigzag
Lurus-miring
Aku zigzag
Tapi aku tetap melingkar