Category Archives: ukhuwah

ukhuwah kita **

Titip salam dariku, untuk ukhuwah kita yang tengah indah-indahnya. Kuncup-mekar di taman masing-masing. Dedaunannya mulai meranggas satu dua, apakah itu tunjukkan ukhuwah kita sekarang begitu kering? Ah ku rasa tidak, ada kalanya kita memang butuh waktu, untuk kembali munculkan tunas-tunas baru yang hijau menyenangkan. Adakalanya kita memang butuh, mematahkan satu-dua dahan, untuk mempertahannkan yang lainnya. Ini bukan masalah seberapa banyak hama-penyalit yang menggerogotinya, ini masalah paham kita. Ukhuwah selalu dibangun dengan cara yang unik. Kadang. Kita memilih untuk tidak bertemu saja, agar ego-ego yang beranak pinak itu luntur, akibat membuncahnya muara rindu. Iya, bukankah rindu harus dibangun dengan cara yang rutin. Bisa jadi, dengan melamakan waktu untuk tidak bertemu. Bukan sombong. Tapi, begitulah uniknya, membiarkan kepulan-kepulan hangat nan dahsyat itu menembus dinding-dinding langit. Saling berpelukan. Saling menatap hangat dengan mata bebinar layaknya kejora. Lalu, lupalah segala masalah masa lalu yang menyakitkan, membuat kita menangis diam-diam, mengkarati hati, kita tidak benci, tapi itu efek Maha Dahsyat dari keindahan ukhuwah. Kita sama-sama berupaya untuk memahami setiap intuisi yang diciptakannya secara alamiah dan natural, mangkanya tak jarang cinta orang-orang yang menjaga ukuwahnya akan mampu kalahkan cinta romantisme pasangan-pasangan muda.
Ukhuwah kita tengah lelap-lelapnya, bukan ia lelah mencercah cahaya, bukan ia lelah merasuki lorong-lorong nan senyap. Tapi ia sedang belajar, menghilangkan cadas dan pongah masing-masing. Bukan istirahat istilahnya, ini hanya fase yang memang harus dilakukan, menuruti siklusnya. Tak layak, kita terus paksakan, ukhuwah berjalanan bersisian, namun nyatanya bersebrangan. Lebih baik, kita simpan diam-diam dulu, lalu saat tiba waktu pertemuan, kita tampilkan performa paling baik, untuk saudara-i kita itu.
Jikapun tak seperti muhajirin-ansor, kita tetap saja tengah belajar memiliki sifat kedua kaum itu. Saling berbagi punggung, berbagi tanah, berbagi cinta. Tak seperti Abu Bakar dan Umar, tapi ukhuwah kita tak kalah tegas, sama-sama memberi warna masing-masing, setegas pelangi, sejelas dan seterang bintang di langit. Tak seperti Ashabul Kahfi, kita tetap memaknai hikmah keteguhan mereka. Karena ukhuwah kita adalah tentang kita, mengalir tanpa dipaksa, bersahut-sahutan bagai gema suara, saling memunggungi untuk rehatnya jiwa. Kadang kita sama-sama keras, berbenturan, yang akirnya menyadarkan. Kadang kita menjadi bulir-bulir pasir pantai, yang sibuk dan berebut untuk tidak tersapu gelombang, saling berkejaran, saling berkompetisi, tapi di sisi lain, kita sedang berusaha saling menyelamatkan. Dalam jamaah. Kadang kita malah berbeda, aku batu dan kau air, yang lain lagi malah pasir atau semen. Namun kesatuan dari kita mnegukuhkan, menghasilkan pondasi yang menguatkan.
Bahagia bukan, bagimana setiap celupan memberikan warna-warna khas dalam ukhuwah yang digores di atas kanvas sederhana ini. Awalnya hanya dari keinginan, berakhir pada sebuah karya imajnasi indah. Mencipta sejarah. Bahkan diagung-agungkan. Jika aku jingga, kau merah, dan yang lain nila. Kita tetap saja sama celupannya. Dicipta untuk mencipta. Bahkan menariknya, kita tak pernah dilahirkan dalam satu rahim, tak pernah dipertemukan sebelumnya, bahkan pada awalnya belum tentu memiliki visi yang sama. Namun ukhuwah, merangkum kita dalam satu persatu kata yang bergugusan menjadi kalimat. Kita layaknya mozaik yang disatukan karena alasan sesuatu. Kau percaya bukan, dari sekian banyak orang, aku kadang sering bertanya, kenapa Allah memilihmu? memilih kalian? Memlihku? untuk memulai misi ini sama-sama, jadikan kain kumalku menjadi seolah baru. Cerahnya mengalahkan mentari. Membawa aku banyak belajar makna perkenalan, tak hanya sekedar berpapasan, tapi nasehat dan menasehatinya itu yang begitu menyenangkan.
Ini ukhuwah kita, biar kita mewarnai setiap diksinya dengan celupan Allah. Menjadikannya majas-majas yang tegas. Betulkah begitu??

Advertisements