cara Allah Memeluk kita

Bahwa setiap hari Allah memeluk kita, lewat do’a terurai panjang yang kita takzimkan. Allah memeluk kita. Lewat loncatan-loncatan masalah. Allah memeluk kita. Lewat bahagia dan air mata, Allah memeluk kita.

Bahwa setiap hari Allah memeluk kita, lewat tarikan diagfragma yang lebih dalam. Allah memeluk kita, mengizinkan kita menghelak lebih panjang dalam menghadapi ujian.

Meski bahkan, kita sering mensalah artikan. Ujian dan cobaan seolah terartikan bahwa Allah tak cinta.

Allah memeluk kita, dengan cara yang berbeda bukan untuk mmebedakan. Karena Dia yang Maha tahu seperti apa sebaiknya kita diperlakukan. Allah memeluk dengan uraian air mata. Sujud dalam dan lebih lama.

Lewat kehidmatan kita atas  hidup kitalah, Allah memeluk kita. Tidak membiarkan kita sendiir di tengah keterasingan. Allah memeluk kita, dengan selalu mempertumakan kita dengan makhluk-makhluknya yang begitu baik.

Namun, kitalah yang terlalu keras mmebantu. Menyeolahkan Allah tidak sayang. Padahal, luka dan duka itulah Allah memeluk sekaligus mengajarkan. Jika semua hal mampu kita raih dengan gampang, kita tak akan sekuat ini. Kita akan menjdi teman-temannya kelalaian, kiat akan sibuk mengertakan dunia dalam hati kita.

Alla memeluk kita, selalu. Meski menggunung dosa. Allah memeluk kita, rtuin. Meski sering kita melupa RahmatNya.

Advertisements

Istimrar

Segala yang sedikit, namun dilaksanakan secara rutin dan memadahi. Jauh lebih baik, daripada melakukan sesuatu yang jumlahnya banyak dalam satu waktu, namun setelahnya kita terengah-engah, dan mengakibatkan kita sungkan untuk melakukannya lagi.

Secuil kalimat yang sudah saya tulisakan beberapa tahun lalu, akhirnya menggugah untuk menyusun kalimat-kalimat selanjutnya pada bagian ini. Istimrar, benar-benar hal yang menjadi PR besar buat diir pribadi. Otak yang karena rutinitas akhirnya tersetting dengan proyeksi “deadline”, berulangkalipun tidak akan bekerja sebelum deadline itu sudah benar-benar berada pada layar.

Istimrar tidak hanya dilakukan dalam beribadah, jikapun ibadah kita sudah begitu namun kita masih terbiasa dengan patokan deadline. Artinya, ibadah belum mecermin dalam diri kita. Aktivitas yang banyak atau dibanyak-banyakkan seolah menyita waktu kita. Padahal kita tahu jam-jam efektif otak kita bekerja dan tempat-tempat efektif yang memuarakan inspirasi Membuat semua syaraf mampu bekerja dengan aktif dan saling memenuhi.

Otak yang terbiasa dengan deadline, sedang deadline atas diri kita ternyata tak jua muncul hanya akan menimbulkan kelalaian-kelalaian yang dibarengi dengan pembenaran-pembenaran atas diri.

Satu kelalaian yang akan menaut dengan kelalaian lain pada aktivitas kita. Istimrar semestinya dilakukan, sebagai bekal menjadi orang yang konsisten. Karena yang sedikit dengan keberkahan jauh lebih baik, daripada banyak namun hanya menjadi kepulan-kepulan tak berarti dalam kehidupan.

dan pemboros-pemboros itu…

Tiba-tiba sepajang perjalanan menuju Lsi tadi, saya ingat betul kisah zaman SD yang sangat menyenangkan bersama teman-teman mengaji. Ceritanya, kami dulu sering sekali tampi (bukan nampil ya), ntah jadi pemeran drama (sebagai dokter hihi), ntah sebagai penasyid, atau saat kami membacakan tafsir beramai-ramai dengan jatah ayat masing-masing.

Ramadhan selalu berhasil membawa pada eforia menyenangkan itu.

Dan saat membaca tafsir, saya ingat kebagian  “dan pemboros-pemboros itu temannya syetan”.

Berasa kesambar-sambar. Teringat diri yang masih keduniawiaan. Misal dalam hal belanja.. hehehe. Selalu saja melakukan pembenaran, jika yang dibeli itu sangat penting dan urgent. padahal, bisa juga koq dibelinya nanti-nanti. Kalo sudah begini, malulah bila mengenang ayat tersebut.

Selain dalam hal belanja, Ramadhan ini sering sekali kita dapati. Makanan yang nampak begitu “boros”, padahal saat berbuka yang dimakan tak seberapa. Akhirnya makanan itu mengalami kenaasan. Hanya dipandangi. Semestinya Ramadhan itu bisa mengunci kita dari segala nafsu, termasuk nafsu belanja, nafsu makan, bukan hanya saat sedang menjalankan puasa tapi juga setelahnya.

Seperti yang bersama kita ketahui, bahwa bulan ini adalah sebaik-baiknya kita mentarbiyah diri. Menyiapkannya dengan baik sejak lama, pun merefleksikannya dalam amal dan kehidupan kita. Mari belajar hemat untuk diri sendiri, dan memperbanyak sedekah untuk orang lain. Ingat “harta mukmin itu adalah yang ia sedekahkan”.

langkah

kita mungkin belum tahu,

langkah keberapa yang akan menyampaikan kita pada tujuan kita

namun kita paham,

bahwa mencapai tujuan, sejauh dan serumit apapun itu

harus dimulai dengan me(langkah)

ada, yang memulainya dengan langkah cepat dan besar. namun kemudian terengah di pertengahan jalan. ada pula, yang perlahan memulai langkahnya. namun bisa tepat waktu mencapai tujuan. Ada yang berlagak sok tahu, memilih jalan pintas. namun ternyata, ia semakin menjauhi tujuannya.

sebanyak apapun langkah yang telah kita lakukan, sejauh apapun itu. satu hal yang mesti kita sadar. bahwa pencapaian tujuan akan mimpi-mimpi kita di dunia adalah hampiran sementara. sedang tujuan sebaik-baik tujuan adalah, bagaimana keadaan kita kelak di akhirat.

kita jelas belum tahu,

langkah keberapa yang akan mencapaikan kita pada tujuan akhir yang merupakan awal (kematian)

Namun semestinya kita sadar,

langkah-langkah apa yang kita pilih, untuk mempersipakan kematian terbaik kita (husnul khatimah)

Perhatian-memperhatikan-hati-hati

Seringkali, memang harus bingung merespon sikap orang yang menunjukkan keserbasalahan kita dihadapannya. Seolah kita kurang perhatianlah, terlalu hati-hatilah. Kesannya canggung. Ya mungkin, saya termasuk yang hanya bisa perhatian, setelah saya betul-betul memperhatikan perhatian seperti apa yang diperlukan oleh seseorang. takut salah lagi, dibilang php atau sejenisnya itu tidak mengenakkan soalnya. Ya ujungnya, saya memang memilih lebih hati-hati. Kenapa?

Karena ada pula, yang setelah diberi perhatian tapi mengabaikannya. ada pula yang meminta diperhatikan, namun salah arti setelah diberikan.

oke well, hingga pada akhirnya. Ada kebanyakan orang yang memilih banyak memperhatikan saja, untuk lebih hati-hati memberi perhatian.

menafsir wajah

tak selamanya menangkap raut bisa dilakukan semua orang

pun bagi si pemilik wajah, tak selamanya ekspresi adalah pantulan hati

sebaiknya, memang kitalah yang selalu belajar menafsir wajah itu.

meski senyum merekah dibibir

namun bisa saja hati sedang terbalut luka memerih

bisa jadi bekas perkataan kita, atau orang lain

bisa jadi bekas perbuatan kita, atau orang lain

menafsir wajah, adalah bukan sekedar menatapnya lama. namun membaca sisian-sisian tersembunyi itu.

karena, ada banyak orang yang memilih tak bercerita. meski memerih luka yang ia rasa.

menafsir wajah, bukan sekedar saling menautkan senyum. lantas memutuskan bahwa, dia telah cukup bahagia. bisa saja, ia memilih diam karena tak mau sibuk menebar sedihnya.

menafsir wajah, wajah itu.

wajah saudara kita.

Majelis Gibah

Saudaraku, satu hal yang harus kita ingat bahwa menasehati itu tak sama dengan menebarkan aib saudara kita. Benarlah yang pernah saya baca bahwa “hal paling tersulit di dunia ini adalah, saat kita mengetahui aib orang lain”.

Kita tahu, kita tak mampu menutup semua mulut orang yang menggibah kita. Kita pula tak bisa  menutup telinga semua orang yang sedang mendengarkan pembicaraan atas diri kita, apalagi jika itu aib.

Gibah atau fitnah sama bahayanya. Ibaratkan, kita tengah menebarkan kapas-kapas dari menara tertinggi. Kita tak akan pernah bisa lagi menyeraknya satu-satu, untuk mengumpulkan dan mengembalikannya. Jika kapas itu ibaratkan seperti aib atau fitnah yang menimpa saudara kita.

Untuk apa, kumpulan-kumpulan dibuat jika pada akhirnya tujuannya kesana. Jikapun kita tau aibnya, sekiranya mungkin bukan untuk dipaparkan diforum yang justru makin mencemari yang sudah keruh. Lebih baik, nasehati langsung agar tidak menjadi perbincangan yang justru memaparkan aib saudara kita sendiri.

Pelajaran sangat berarti, yang harus dibenahi memang bukan hanya oleh si pembuka aib. Namun juga bagi yang aibnya tersebar. Karena memang Kita harus menjaga diri kita sendiri, agar tidak menjadi bahan fitnah dan gibah. Agar tidak merusak hati saudara kita dengan prasangka, bahkan menjadikan prasangka itu bahan pembicaraan kemana-mana. Maka, bersungguh-sungguhlah memanajemen prasangka kita [seperti pada tulisannya saya sebelumnya]. Jika mengendus angin yang berbau busuk namun tak tau sumbernya, janganlah menduga-duga pembawa bau itu..  Mari sama-sama menjaga, bukankah gibah ibaratnya memakan bangkai saudara kita sendiri. Dan jelas, tak ada yang mau melakukannya bukan??

Di sudut perpus plasma, fema..

#OneDayOnePosting #MyRama

[mengengaja telat posting]