Dandelion, diri kita dan orang lain

Diri kita dan orang lain jelas berbeda. Kita selalu berharap, mampu menjadi yang terbaik dan berupaya melakukan yang terbaik. Namun dihadapan orang lain, entah itu siapa. Selalulah yang tertangkap berbeda makna, disisi sebagian orang lain kita menjadi salah. Terdakwa. Jahat. Dan kadang terkesan keji.

Begitulah, pada sisi orang lain yang mereka pandang adalah kelemahan. Sedang yang kita upayakan adalah kekuatan dalam diri kita.  Maka terkadang, sebaik apapun yang kita lakukan jika kita mengukur dari sisi orang lain selalu ada berbagai komentar, dari yang manis, asem, hingga pedas melukai dan mengoyak-ngoyak. Memanglah, sebaik-baik niat dalam melakukan apapun adalah dengan berniat hanya kepadaNya, berharap hanya kepadaNya. Sedekat apapun kita pada manusia, kekecewaan jaraknya tak lebih dari 1 centi, sedang semakin dekat manusia kepada RabbNya, jangankan kecewa, diabaikan janjipun sama sekali tak pernah.

Dandelion, diri kita dan orang lain.

Jangan bersedih hanya karena kau dianggap orang lain lemah, payah dan belum bisa melakukan apapun. Hapus sedihmu dengan melakukan banyak hal yang menyenangkan orang lain. Suatu saat cukup mereka yang meremehkan kelemahanmu akan sadar, kamu tak selemah seperti apa yang mereka lihat. Kamu justru lebih kuat dan lebih bermanfaat dari mereka yang lebih memilih mengomentari daripada melakukan. Pada kenyataannya, banyak orang yang pandai sekali mengomentari dan menghardik justru suatu waktu lebih parah kelakuannya dari komentarnya itu.

Jadilah yang diam dalam kata-kata, namun menghasilkan banyak karya. Bukan yang lebih sibuk mengomentari namun tak jauh lebih baik dari yang dikomentari.

Dandelion, diri kita dan orang lain

Jadilah dandelion, yang meski terlihat lemah dimata yang lain. Namun menjadi yang paling banyak menebar kebahagiaan. Banyak menebar manfaat. Meski hanya angin yang tak terlihat yang tahu, apa yang telah dia lakukan.

perkenalan-perkenalan

nanti, akan aku ceritakan. tentang perkanalan-perkenalanku pada mereka yang luar biasa.

menjadikannya kenangan dalam hujan, yang selalu abadi.

menyembunyikan rindu yang selalu berisik.

terimakasih orang-orang hebta..

kalian jawab, dari do,a-do,a yang ku inta pada Allah.

untuk melalui segala badai di kota hujan, dan menjadikan hujannya justru makin menyenangkan..

bisik

aku pikir telah selesai, namun ternyata kau ulangi lagi dari awal.

dan justru membuat semuanya pengap, tak berudara.

saat kita mengira, dari dulu memang tak pernah ada kita. hanya ada, aku dan kau.

semestinya, tak perlu berkata apapun. tentang sesuatu ang bahkan, berbisikpun tidak.

do’aku hanya, semoga Allah lembutkan hatimu. sehingga, ini bukan lagi tentang kita.

tapi, kau-aku.

 

Ada yang bilang “kadang harus berjauhan dulu, hingga kau tau arti merindukan”. Lantas bagaimana, kalau tak jauhpun dia sudah begitu sangat berarti, memaknai bagian fase dari hidup kita. Mencelupkan warna yang berbeda.
Sungguh ikatan karena Allah, selalu membuat rindu pada kalian. Namun apalah arti merindu, tanpa mendo”akan. Semoga cinta kita berhimpun karenaNya. Hingga selalu hati menengadah, sambil saling menyebutkan nama kita diam^diam.. dalam do’a.

Semoga Allah menjagamu, menjagaku.. dalam kebaikan selalu kita pegang..

Anna uhibbukum fillah..

Bogor tanoa hujan, tapi penuh rindu..

Pantang lelah berdo’a

Allah yang Maha mengabulkan. Jika belum atau ditunda, jelas bukan karena Dia tak Cinta. Kadang penundaan justru terjadi demi keberkahan sebuah proses.   Dan jangan pernah letih merayuNya. Meminta kebaikan itu. Meminta kejutan^kejutan itu. Aku bahkan pernah, menunggu empat tahun lebih untuk sebuah do”a. Dan memang itu seharusnya diberi saat itu..
Pantang menyerah dalam berdo”a, meski serak suara lirih mengurai kata. Meski semakin lama, semakin terbata. Jangan ragu, pantang menyerahlah dalam berdo’a, meminta yang terbaik dan berkah.. meski hal^hal yang paling sederhana. Berdo”alah karena kamu butuh, dan lewat do’a^do’a itulah ternyata Allah memelukmu. Menggamitmu dalam lemah. Berdo’alah, dan berserah. Bahwa segala yang terjadi adalah hak Allah..

MyRama

Pertemuan^perpisahan

Hidup selalu mengajarkan pertemuan dan perpisahan. Saat begitu banyak orang-orang yang menghampiri hidup kita. Ada yang sekedar singgah, atau hilir mudik tanpa sempat kita mengenalnya. Ada pula yang memberkas dan menetap dihati, entah dia begitu baik atau justru sering menyakiti. Bagaimanapun.. Allah tidak pernah mengirimkan orang yang salah dalam hidup kita, terlepas dia dengan segala sikapnya yang bertentangan. Allah selalu ingin mengajarkan kita bercermin, memandang dan fokus pada kelebihannya. Bukan kekurangannya. Dari yang baik kita belajar bersikap, hingga begitu banyak yang mencintainya. Dari yang lebih sering bersikap kurang mengenakkan, kita pun belajar untuk tidak bersikap seperti itu.

Allah tidak akan pernah mengirimkan orang yang salah. Karena dari merekalah, kita belajat membesarkan hati, menerima setiap perbedaan. Hingga semakin hari, terpupuklah sikap dewasa itu. Kebaikan yang tidak bermodus dan berpura-pura. Semua hanyalah tinggal bagaimana kita menempatkan diri, apakah ingin menjadi si pesakitan yang selalu melukai, atau senantiasa berbaik untuk membahagiakan.

Hidup adalah pertemuan dan perpisahan. Hingga akhirnya, saat mereka jauh meninggalkan. Kita semakin sadar, bahwa mereka begitu memberkas di hati.. dengan segala suka duka yang dilalui bersama.

Selamat pagi rindu,
Bogor tanpa hujan